Jumat, 22 Mei 2015

-- Keutamaan Menutupi Aib Orang Lain --

Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf :
-- Keutamaan Menutupi Aib Orang Lain --
Ada salah seorang yang menceritakan kepada saya (red. Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf Jeddah) sebuah kisah yang sangat menakjubkan. Dikisahkan ada seorang laki-laki yang berasal dari kota Madinah Al-Munawaroh telah bermimpi bertemu Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan ketahuilah mimpi bertemu Rasulullah adalah haq (benar).
Dalam mimpi tersebut, Rasulullah berkata kepadanya, “Berilah kabar gembira kepada Fulan bin Fulan yang tinggal di kota Makkah bahwa dia akan bersamaku insya Allah”. Maka laki-laki ini pun pergi ke Makkah untuk menemui Fulan bin Fulan sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah dalam mimpi tersebut.
Setelah sampai di Makkah, dia bertanya-tanya tentang si Fulan ini. Ketika ditanyakan tentang si Fulan, tidak ada seorang pun yang mau menunjukannya kecuali yang ia temukan justru apabila nama Fulan ini disebut maka mereka orang-orang penduduk Makkah tidak memperdulikannya. Hingga pada suatu hari, ia pun berhasil menemukan sosok si Fulan setelah bersusah payah mencarinya. Barulah ia tahu bahwa si Fulan ini ternyata seorang yang paling jahat dan paling buruk akhlaknya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak membaguskan shalatnya dan senantiasa melakukan maksiat. Saat berjumpa dengannya, dia pun bertanya kepada si Fulan:
“Wahai Fulan, apakah amalan sholeh yang Engkau lakukan sepanjang hidupmu yang Engkau rasa Allah menerimanya?”.
Si Fulan menjawab, “Sepanjang hidupku tidak ada amal sholeh yang telah aku lakukan yang aku berharap dengannya”.
Dia bertanya lagi, “Tidak, coba ingat-ingat adakah perbuatan baik yang pernah Engkau lakukan?”.
“Mungkin ada sesuatu perbuatan yang baik semasa aku menikah. Pada waktu malam pertama, istriku berkata: ‘Tutuplah aibku niscaya Allah akan menutup aibmu karena aku sedang mengandung (hamil) anak di luar nikah’. Maka aku merahasiakan perkara ini dengan penuh kesabaran dan tidak memberitahu siapapun hingga ia melahirkan bayi itu. Selepas kelahiran bayi itu, aku mengambilnya dan aku pergi ke tempat Sa’i dan meletakannya di atas Bukit Shofa. --- Lantas terdengar jeritan, ‘Ada bayi kecil di sini!’. Maka ramailah orang-orang berdatangan dan berkumpul kemudian mencari-cari keluarga si bayi ini. Dan aku hanya sekedar memperhatikan sampai pembicaraan reda. Kemudian aku pun datang dan berkata, ‘Aku akan membesarkan bayi ini sampai keluarganya menuntutnya’. --- Lalu aku mengambil bayi itu pulang kepada ibunya dan mengasuhnya sampai sekarang. Tidak ada seorang pun yang tahu akan hal ini kecuali Engkau sekarang. Tidak ada siapapun yang mengetahui tentang ini kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala”, jawab Fulan.
Maka laki-laki itu pun berkata, “Subhanalloh, amal inilah yang telah membawa Engkau ke tahapan seperti ini. --- Aku telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam memberi kabar gembira kepadamu bahwa Engkau akan bersamanya kelak”.
Si Fulan pun terkesan mendengar berita tersebut lalu menangis dan ini menjadi sebab taubat baginya dan penerimaan Allah terhadapnya.
Sungguh kisah ini memberikan makna dan pelajaran yang sangat penting. Wahai saudaraku, manusia pada hari ini jika melihat keburukan yang kecil pada seseorang, mereka tidak tahu bagaimana menutupinya. Saat ini manusia lemah dalam menutup keburukan orang lain. Di dalam saluran dan program televisi, internet, dan lain sebagainya, niscaya engkau mendapatkan manusia sekarang begitu suka membuka aib orang lain. Bahkan mereka tidak suka menutup aib orang lain.
Maka lihatlah dirimu sendiri duhai saudaraku, yang suka membuka aib orang lain, maka ketahuilah sifat ini sifat yang buruk dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jika menemukan pada dirimu suka menutup aib orang lain, maka ketahuilah itu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu merupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung,
“Sesungguhnya Allah Maha Menutup dan Dia suka menutup aib hambaNya”. Bahkan setiap manusia perlu melindungi dirinya jika ia melihat aib pada diri seseorang, dengan tidak menyebut aibnya.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa menutup aib ini mempunyai beberapa tingkatan. Setinggi-tinggi tingkatan tersebut adalah jika dia melihat aib pada diri orang lain maka ia menutup aib itu dari dirinya sendiri.
Ada seorang pemuda yang aku kenal telah menceritakan kepadaku. Bahwa dia telah melakukan segala maksiat, dan kita berlindung kepada Allah dari padanya. Namun, Allah memuliakannya dengan taubat. Semasa musim haji, selepas hari Arafah di Mina, dia meminta kepadaku untuk dipertemukan dengan seorang Guruku (Syaikh), maka aku pun mengatur pertemuan tersebut. Ketika berjumpa dengan Syaikh tersebut, dia mulai menceritakan segala keburukannya, “Wahai Tuan, aku telah melakukan perkara yang buruk”.
Lalu Syaikh itu diam kemudian berkata, “Wahai Fulan, Allah telah menutup aibmu maka janganlah Engkau membukanya kepadaku. Akan tetapi kita baru pulang dari Arafah, insya Allah kita berperasangka baik bahwa Allah telah mengampuni dosamu, maka janganlah menyebut segala dosa dan maksiatmu. Mulailah hidupmu dengan permulaan yang baru”.
Aku merasa kagum dengan kejadian ini dan aku mengambil iktibar dari sebaik-baik pelajaran Syaikh kepada pemuda tersebut. Bahwa Syaikh ini tidak suka membuka aib saudara muslim yang lain.
Sayangnya perkara yang banyak disukai oleh kebanyakan orang justru mengetahui aib orang lain dan menyebarluaskannya, lalu ia menyangka ini perkara yang baik. Oleh karena itu, akhlak ini, akhlak menutup aib orang lain, merupakan akhlak yang agung dan kita perlu berusaha ke arahnya (meneladaninya). Kita berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kita akhlak ini, sehingga menutup aib kita di akhirat kelak.
Kita sangat ingin agar Allah menutup aib kita karena jika Allah membuka aib kita niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk bersandingan dan bersalaman dengan kita di dunia ini. Maka sebagaimana engkau ingin aibmu ditutupi, tutuplah aib hamba Allah niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aibmu.
Wallahu a'lam
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala alihi washobihi wasalim

Jumat, 17 April 2015

Di Balik Kesulitan

Renungan 2: Kesulitan
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Alam Nasyrah:5-6).

     Jika kita membaca ayat ini, mengapa kita harus takut. Sebab jika saat ini kita
sedang sulit, maka esok kemudahanlah yang akan menghampiri kita. Ayat ini
sungguh memberikan inspirasi bagi kita yang sedang mengalami kesulitan, ayat
yang memberikan dorongan kepada kita untuk tetap bertahan, tetap semangat
dalam menghadapi hidup yang penuh kesulitan.

       Kemudahan, atau pertolongan Allah SWT, akan datang. Tenanglah! Seperti
tenangnya Nabi Musa as. saat akan tersusul oleh pasukan Fir’aun, seperti
diceritakan dengan indah dalam Al Quran,
Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari
terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-
pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa
menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku,
kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS. Asy Syu'araa':60-62).

          Jika kita meneladani Nabi Musa as., kita juga bisa mengatakan “sesungguhnya
Allah bersamaku, Dia akan memberikan petunjuk kepadaku” saat kita ditimpa
masalah yang seolah-olah tidak akan bisa hadapi atau selesaikan. Jadi,
janganlah bersedih dan janganlah berputus asa saat kesulitan menghimpit kita,
karena dengan pertolongan Allah SWT, kemudahan akan datang kepada kita.

Jangan pernah terhimpit, karena keadaan akan berubah. Seperti sebuah lagu
dari mendiang Chrisye, Badai pasti berlalu. Tunggulah kemudahan tersebut,
sudah dijamin koq oleh Allah dalam Al Quran yang mustahil salah. Tentu saja
sambil mengharap pertolongan Allah dengan shabar dan shalat. Hari esok
adalah ghaib, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bisa saja esoklah
datangnya kemudahan tersebut. Jadi selalu ada harapan di hari esok. Justru jika
kita tidak memiliki harapan di hari esok, artinya kita sudah sok mengetahui apa
yang akan terjadi esok hari. Kita menganggap esok hari akan seperti ini saja,
maka sama artinya kita mendahului ketentuan Allah SWT. Allahlah yang
menentukan hari esok akan seperti apa, dan kita memang tidak diberitahu. Bisa
saja besok hidup kita lebih baik. Besok, selalu ada harapan untuk kita.

Begitu juga dengan rezeki, mungkin saat ini begitu sulit karena akan ada
kemudahan setelah ini. Jangan sampai kita menyerah dengan cara tidak mau
mencari rezeki yang lebih besar karena takut kehilangan rezeki yang sudah ada.
Ada juga yang berharap kepada orang dengan cara menjilat dan merendahkan
diri dihadapan orang lain.

Allah sudah menyiapkan rezeki bagi kita, jadi meskipun saat ini serasa sulit,
sebenarnya sudah Allah siapkan untuk kita. Kemudahan akan kita dapatkan
setelah kesulitan ini.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
(QS. Huud:6).

Hikmah Kesulitan

Daripada tenggelam dengan kesedihan akibat kesulitan, mengapa kita tidak
berusaha mengambil hikmah dengan cara berprasangka baik kepada Allah
SWT. Mungkin dengan datangnya kesulitan kepada kita, agar kita:

1. memiliki hati yang lebih kuat, sebab kesulitan menguatkan hati kita
2. sadar dengan segala kekurangan dan kesalahan sehingga kita bertaubat
    dan dosa kita diampuni.
3. bebas dari rasa ‘ujub, kesulitan adalah bisa saja sebagai teguran karena
    kita merasa bisa dan merasa pintar
4. tidak lalai, sudah nyata kesulitan ada dihadapan kita
5. lebih banyak mengingat Allah SWT
6. lebih bershabar, karena mungkin saja kesulitan ini adalah latihan
    bershabar

Senin, 02 Maret 2015

Makna " Sampaikan Walaupun Satu Ayat "

Saudaraku, ingatlah amanat Nabi "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat".
Tahukah kalian, apakah amanat itu?
Amanat itu adalah rahmat dan kasih sayang, sebab beliau diutus sebagai rahmat untuk semesta.
Maka berusahalah menebarkan rahmat di dirimu, walaupun kau baru memilikinya sepenggal ayat.
Jika kau berlaku kasar terhadap siapa pun di bumi, maka kau melalaikan amanat itu.
Amanat itu adalah budi pekerti, sebab beliau diutus untuk menyempurnakan budi pekerti manusia.
Aisyah ra berkata, "Budi pekerti Nabi adalah alQuran" Maka berusahalah, menjadikan dirimu berbudi pekerti, walau kau baru mampu sepenggal ayat darinya.
Jika kau berbudi buruk kepada siapa pun di muka bumi ini, maka kau melalaikan amanat Nabi Saw, walau kau shalat seribu rakaat, dan berpuasa sepanjang tahun, atau mengkhatamkan alQuran setiap hari.
Nabi Saw mengislamkan orang kafir, namun mengapa banyak umatnya di zaman ini, mengkafirkan orang yang sudah Islam?
Nabi Saw, mendekatkan hamba yang jauh, lalu mengapa di zaman ini banyak mereka yang mengaku menjalankan sunnah Nabi, justru menjauhkan orang yang dekat?
Nabi Saw, memudahkan manusia jalan menuju surga. Dia bersabda, "Permudahlah, jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira, janganlah kalian ucapkan hal-hal yang menjauhkan."
Namun mengapa sekelompok muslim, Justru mempersulit, dan menjauhkan manusia dari surga?
Saudaraku, janganlah kalian melalaikan amanat ini. Sebab kelak beliau Saw akan menjadi saksi bagi kalian. Entah saksi bagi kebaikan, atau saksi atas keburukan.
@husinnabil

Keindahan Rasulullah SAW


======Keindahan Rasulullah SAW======

Seorang lelaki bertanya kepada Albarra’ bin Azib ra : “Apakah wajah Rasul saw seperti pedang ?” (bukankah beliau banyak berperang, apakah wajahnya bengis bak penguasa kejam?), maka menjawablah Albarra’ bin Azib ra : “Tidak.. tapi bahkan wajah beliau bagai Bulan Purnama..”, (kiasan tentang betapa lembutnya wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang) (Shahih Bukhari hadits no.3359, hadits serupa Shahih Ibn Hibban hadits no.6287).

Diriwayatkan oleh Jabir bin samurah ra : “wajah beliau saw bagaikan Matahari dan Bulan” (Shahih Muslim hadits no.2344, hadits serupa pada Shahih Ibn Hibban hadits no.6297), demikian pula riwayat Sayyidina Ali.kw, yang mengatakan : “seakan akan Matahari dan Bulan beredar di wajah beliau saw”. (Syamail Imam Tirmidzi), demikian pula diriwayatkan oleh Umar bin khattab ra bahwa “Rasul saw adalah manusia yang bibirnya paling indah”.

Al Imam Alhafidh Syeikh Abdurrahman Addeba’I mengumpulkan ciri ciri sang Nabi saw : “Beliau saw itu selalu dipayungi oleh awan dan diikuti oleh kabut tipis, hidung beliau saw lurus dan indah, Bibirnya bagaikan huruf Miim (kiasan bahwa bibir beliau tak terlalu lebar tak pula sempit dan sangat indah), Kedua alisnya bagaikan huruf Nuun, (kiasan bahwa alis beliau itu tebal dan sangat hitam dan bersambung antara kiri dan kanannya)”.

Dari Abi Jahiifah ra : “Para sahabat berebutan mengambil telapak tangan beliau dan mengusapkannya di wajah mereka, ketika kutaruh telapak tangan beliau saw diwajahku ternyata telapak tangan beliau saw lebih sejuk dari es dan lebih wangi dari misik” (Shahih Bukhari hadits no.3360).

Berkata Anas ra : “Tak kutemukan sutra atau kain apapun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tak kutemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.3368). “Kami tak melihat suatu pemandangan yg lebih menakjubkan bagi kami selain Wajah Nabi saw”. (Shahih Bukhari hadits no.649 dan Muslim hadits no.419) “Ketika perang Uhud wajah Rasul saw terluka dan mengalirkan darah segar, maka putrinya yaitu Sayyidah Fathimah ra mengusap darah tersebut dan Sayyidina Ali kw memegangi beliau saw, namun ketika terlihat darah itu terus mengalir, maka diambillah tikar dan dibakar, maka debunya ditaburkan diluka itu, maka darahpun terhenti”. (Shahih Bukhari hadits no.2753)
.
Dari anas bin malik ra : “Dan saat itu dirumah hanya aku, ibuku dan bibiku, lalu selepas shalat beliau berdoa untuk kami dengan kebaikan Dunia dan Akhirat, lalu Ibuku berkata : “doakan pelayanmu ini wahai Rasulullah..” (maksudnya Anas ra), maka Rasul saw mendoakanku dan akhir doanya adalah : “Wahai Allah Perbanyak Hartanya dan keturunannya dan berkahilah” (Shahih Muslim hadits no.660).

“Dan beliau saw itu adalah manusia yg terindah wajahnya, dan terindah akhlaknya” (Shahih Bukhari hadits no.3356) . “Dan beliau saw itu adalah manusia yg termulia dan manusia yg paling dermawan, dan manusia yang paling berani” saw (Shahih Bukhari hadits no.5686).

Dari Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah.., bila kami memandang wajahmu maka terangkatlah hati kami dalam puncak kekhusyu’an, bila kami berpisah maka kami teringat keduniawan, dan mencium istri kami dan bercanda dengan anak anak kami” (Musnad Ahmad Juz 2 hal.304, hadits no.8030 dan Tafsir Ibn katsir Juz 1 hal.407 dan Juz 4 hal.50).

siang dan malam seluruh Ummat ini ruku dan sujud, bermilyar wajah menyungkur sujud kehadirat Nya hingga akhir zaman, mereka mensucikan Nama Nya yang Maha Tunggal, merekalah yang selalu dalam naungan Rahmat dan keridhoan Nya, Sebagaimana sabda beliau saw : “Dijadikan kesenanganku adalah shalat”. Shalat merupakan Ibadah yang paling dicintai oleh beliau saw, dan “Shalat adalah Cahaya”, demikian sabda beliau saw pula mengenalkan Indahnya shalat, suatu ibadah yang diawali dengan Takbiratul Ihram yang membuka gerbang penghadapan dengan Rabbul ‘alamin, lalu lantunan kalimat-kalimat surat Alfatihah yang bila dibaca dengan khusyu maka setiap kalimat itu dijawab oleh Raja Alam Semesta, lalu lantunan kalimatullah itu menerangi seluruh alam sanubarinya, meruntuhkan dosa-dosanya, lalu ia ruku’, bertasbih kepada Nya, bertakbir, bertahmid, lalu bersujud dibawah Naungan Kelembutan dan Kasih Sayang Nya, alangkah indahnya ibadah yang satu ini, suatu ibadah yang terangkai dari hampir seluruh bentuk Ibadah, Wudhu, Niat Mulia, Doa, Alqur’an, Takbir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Istighfar, Ruku’, Sujud, khusyu, Tuma’ninah….., itulah shalat.., Ibadah yang paling sempurna.

Demikianlah ummat ini melakukannya siang dan malam untuk sumpah baktinya kepada Allah Pencipta Alam Semesta, Namun dalam Ibadah yang Multi Sempurna ini…, tak luput…., tak luput…, tak luput…., tak seorangpun melakukan shalat terkecuali diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw…

dan diwajibkan Nya bershalawat pada Muhammad saw…

“Salam Sejahtera atasmu wahai Nabi dan Rahmat Allah dan keberkahan Nya….”, kalimat ini merupakan kalimat yang diwajibkan Allah yang harus ada dalam Ibadah termulia ini.. Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?,

Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id bin Ma’la ra sedang shalat dan ia mendengar panggilan Rasul saw memanggilnya, maka Abu Sa’id meneruskan shalatnya lalu mendatangi Rasul saw dan berkata : Aku tadi sedang shalat Wahai Rasulullah.., maka Rasul saw bersabda : “Apa yang menghalangimu dari mendatangi panggilanku?, bukankah Allah telah berfirman “WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DATANGILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL NYA BILA IA MEMANGGIL KALIAN”.(Al Anfal 24). (Shahih Bukhari hadits no.4204, 4370, 4426, 4720). Dan bahwa mendatangi panggilan Rasul saw ketika sedang shalat tak membatalkan shalat, dan mendatangi panggilan beliau lebih mesti didahulukan dari meneruskan shalat, karena panggilan beliau adalah Panggilan Allah swt, perintah beliau saw adalah perintah Allah swt, dan ucapan beliau saw adalah wahyu Allah swt…

Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?, Diriwayatkan pula disaat perang Hunain selesai, Rasul saw memberi pada Sofwan 100 ekor unta, lalu 100 ekor lagi dan 100 ekor lagi, berkata Sofwan : “Sungguh Ia (Rasul saw) adalah orang yang paling kubenci, namun ia tak henti hentinya memberiku sampai ia menjadi orang yang paling kucintai” (Shahih Muslim hadits no.2313). Alangkah penyantunnya Nabi kita ini, bukanlah kecintaan Sofwan karena pmberian harta, namun kebenciannya luntur menghadapi manusia mulia yang memberinya dan saat ia tak berterimakasih justru ia ditambah lagi.. dan lagi…, tidak pernah kita temukan seorang dermawan dimuka Bumi yang setelah ia memberi dan yang diberi tak berterimakasih malah ia menambahnya lagi dan lagi, dan sesekali bukanlah barang yang murah, karena harga seekor Unta hampir menyamai 40 ekor kambing, dan beliau memberikannya 100 ekor onta, dan Sofwan tak berterimakasih dan tetap membencinya, beliau menambahnya lagi 100 ekor unta, lalu menambah lagi 100 ekor unta, lunturlah Sofwan.. ia lebur.. tak ada lagi yang lebih dicintainya selain Muhammad saw..

Jadilah beliau saw ini idola para sahabat, dan dalam riwayat lain, Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw, Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480). Alangkah besar penghormatan para sahabat pada tempat tempat yg disentuh Tubuh Rasulullah saw, Bahkan gunung Uhud mencintai beliau saw dan dicintai oleh beliau saw sebagaimana sabdanya saw : “Gunung Uhud ini mencintai kita dan kita mencintainya” (Shahih Bukhari hadits no.3854).

Betapa Indahnya Alam semesta ini semua beridolakan Muhammaa saw, mencintai Muhammad saw, Memuliakan Muhammad saw, tak lain karena Allah telah mengumumkannya, sebagaimana Sabda beliau saw : “Bila Allah mencintai seorang Hamba maka Allah berkata kepada Jibril as : WAHAI JIBRIL, AKU MENCINTAI FULAN MAKA CINTAILAH IA”, maka berkatalah Jibril as menyeru kepada Alam Semesta : “Wahai Penduduk Langit, Sungguh Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah ia, maka diberikanlah padanya Kasih sayang dimuka Bumi, maka ia dicintai dibelahan Bumi” (Shahih Bukhari hadits no.3037, 5693, 7047). Dan kita memahami bahwa Pengumuman itu terus berkumandang mengumumkan orang-orang yang dicintai Allah, dan tentunya pengumuman itu bergema terluhur dan terdahsyat saat mengumumkan Nama Muhammad saw….!, Maka Beliau saw dicintai Gunung, dicintai batang korma, hewan, manusia, jin, malaikat, dan orang-orang mukmin.. Beruntunglah Jiwa orang orang yg mencintai Muhammad saw.

“SUNGGUH ALLAH DAN PARA MALAIKAT MELIMPAH
KAN SHALAWAT ATAS NABI (saw) WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BERSHALAWATLAH KALIAN KEPADANYA DAN BERSALAM LAH DENGAN SEMULIA MULIA SALAM” (QS Al Ahzab-56

Minggu, 15 Februari 2015

JAWABAN SHALAT ISTIKHARAH




HABIB AHMAD bin NOVEL bin SALIM bin JINDAN berkata:

Di dalam hadist disebutkan “ Tidak akan kecewa orang yang shalat istikharah” tau tidak Shalat istikharah? Shalat istikharah adalah Shalat 2 rakaat dengan niat shalat meminta petunjuk dari Allah


Rakaat pertama setelah baca Alfatihah membaca Q.S. Alkafirun, rakaat kedua setelah Fatihah membaca Q.S. Al-Ikhlas, setelah salam membaca do’’a Istikharah.

Kalian ingin perkara apa? Ingin melakukan perjalanan, melamar pekerjaan, melamar perempuan? kalian shalat Istikharah minta petunjuk kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Terus Jawaban dari Shalat istikharah tidak harus lewat mimpi. Orang taunya sekarang “ Bib saya sudah shalat istikharah tapi tidak mimpi-mimpi bib”

Sholat Istikharah tuh jawaban dari Allah tidak harus dengan mimpi. Kadang dengan mimpi kadang dengan hal yang lain. Contoh kalian shalat istikharah tidak mendapatkan petunjuk yah sholat lagi kedua kalinya hingga 7x.

Kadang kalian buka kitab ada tulisan yang seakan-akan mengisyaratkan untuk memerintahkan sesuatu dari sebuah pilihannya kalian atau kalian dengar nasehat dari ulama.

Inilah bagian daripada tangan-tanganNya Allah yang Allah sampaikan kepada kita petunjuk dari Allah tidak harus dengan mimpi.

Terus kalau sudah 7x Istikharah namun belum dapat juga, lihat dari kedua pilihan mana yang lebih mudah untuk ditempuh

Ketahuilah izin Allah adalah yang mudah di dalam perkara yang mudah untuk ditempuh. Yang paling mudah ditempuh tidak ada hambatan maka itulah petunjuk Allah di situ. Inilah Istikharah.

Terus juga kadang hati yang sreg, dilamar yah Shalat istikharah namun tidak ada mimpi tidak ada jawaban tapi yang tadinya hati gundah berubah jadi tenang jadi sreg ini juga bagian daripada petunjuk

Sebab yang gerakkan hati kalian adalah Allah Subhanahu Wata’ala. Nah ketika hati kalian tergerak menjadi sreg , enak, lapang setelah shalat istikharah maka ambil kabar gembira bahwa ini bagian dari pilihan Allah Subhanahu Wata’ala

Google Santri