Kamis, 18 Juni 2015

Kebenaran Janji Allah

Kebenaran Janji Allah

لا يشككنّك في الوعد عدم وقوع الموعود وإن تعين زمنه،
لئلا يكون ذلك قدحا في بصيرتك وإخمادا لنور سريرتك
"Janganlah engkau ragu terhadap janji Allah disebabkan tidak adanya apa yang dijanjikan, walaupun sudah saatnya dipenuhi. Supaya hal tersebut tidak merusak bashirohmu dan memadamkan cahaya hatimu."
Dalam Al-Qur'an, Allah seringkali menebar janjiNya kepada kaum muslimin tanpa membatasinya dengan keharusan berdoa dan meminta kepadaNya. Tapi Allah mengharuskan' dzatNya sendiri untuk memenuhi janji tersebut jika memang kaum muslimin melaksanakan perintah-perintahNya dan tuntutan yang dibebankan ada mereka. Di antara janji Allah itu seperti firman Allah:
إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ (51) [غافر : 51]
Artinya: "Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)."
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً [النحل : 97]
Artinya: "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan."
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [محمد : 7]
Artinya: "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." Dan realitanya, pada zaman sekarang banyak kaum muslimin yang membaca ayat-ayat di atas dan janji Allah lainnya. Dia melihat bahwa janji-janji itu, atau mayoritas tidak terpenuhi pada hari ini. Orang-orang Islam tidak ditolong seperti yang dijanjikan Allah, sedangkan orang zalim bebas berkeliaran merampas hak orang lain. Mereka tidak dibinasakan oleh Allah sebagaimana yang telah dijanjikan. Apakah Allah telah mengingkari janjiNya? Tentu saja tidak karena hal itu mustahil bagiNya.
Maka dari itu, Imam Ibnu 'Athoillah mengingatkan mereka yang ragu-ragu terhadap janji Allah dengan mutiara hikmahnya di atas. Di antara kita mungkin ada yang berkilah: "Terang saja saya ragu-ragu terhadap janji Allah karena saya melihat sendiri keadaan yang berbeda dengan apa yang dijanjikan." Untuk menanggapinya kita berkata, orang yang terjangkit penyakit ragu-ragu terhadap kebenaran janji Allah adalah orang yang selalu menuntut haknya dari Allah, tapi dia sendiri tidak pernah berintropeksi terhadap dirinya. Sudahkah dia memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah kepada dirinya? Jika dia berkata lagi, "Kami adalah orang muslim, beriman, masjid-masjid kami dipenuhi orang-orang yang solat, kami berpuasa di bulan Ramadan, dan pergi haji pada bulan haji. Jadi kami sebenarnya sudah menjalankan kewajiban kami. Lantas dimana pertolonganNya kepada kami? Kami malah dikuasai musuh dimana-mana, mereka merampas hak kami dan menjajah negara kami."
Di sela-sela gugatannya, terlihat bahwa orang ini selalu mengedepankan hak-haknya serta mengabaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Dia malah mengungkit-ungkitkpd Allah atas amal ibadahnya berupa menghidupkan syi'ar Islam, meramaikan masjid, menghidupkan Romadlon dengan berpuasa, dan berhaji di ka'bah. Tapi dia melakukan itu semua tidak untuk memperbaiki akhlaknya, dia tidak peduli untuk menolong sesamanya dan melihat ajaran Islam yang semakin terpinggirkan. Dia tidak melakukannya demi melawan ajaran yang menghina Islam dan menganggap hukum Islam sebagai barang kuno yang membosankan. Tidak juga demi membuka kedok pemikiran Barat yang mengajak kepada modernitas, sekularisme, dan liberalisme yang mempunyai misi membebaskan dunia dari semua agama. Orang-orang seperti itu, yang menggugat janji Allah, adalah orang yang tidak mendapatkan hidayahNya, melecehkan hukum-hukumNya, dan sangat dangkal akan prinsip-prinsip agamanya sendiri. Orang itu akan merasa cukup dan puas jika sudah melakukan solat lima waktu, pergi haji, dan berpuasa di bulan Romadlon bersama yang lainnya.sehingga dia merasa berhak untuk menagih janji Allah kepadanya.
Padahal ketika seseorang sudah ma'rifat kepada Allah dan tidak tenggelam dlm kesibukan duniawiah, dia akan merasa bahwa hak Allah yang harus dipenuhi sangatlah banyak dan berat. Sehingga haknya sendiri terlupakan walaupun sebenarnya dia sudah layak untuk mendapatkannya.
Rasulullah saja, manusia yang paling ma'rifat kepada Allah, paling cinta dan paling takut kepadaNya, tapi beliau masih merasa bahwa ibadahnya belumlah maksimal dan sempurna, belum bisa syukur kepada Allah dan menunaikan hak-hakNya. Beliau selalu beristighfar, layaknya seorang pendosa yang sangat mengharapkan ampunan dariNya. Beliau pernah berkata:
إنه ليغان على قلبي، فأستغفر الله في اليوم والليلة مئة مرة
Artinya: "Sesungguhnya hati saya pernah tertutupi, lalu aku beristighfar kepada Allah seratus kali setiap hari."
Para ulama sholihin juga mengatakan hal yang semakna:
حسنات الأبرار سيئات المقربين
Kebagusan orang-orang soleh itu sama dengan kejelekannya muqorrobin (orang-orang yang didekatkan kepada Allah).
Imam Asy Syathibi berkata dalam kitab Muwafaqot: "Golongan pertama adalah orang yang beramal dengan ajaran-ajaran Islam tanpa adanya tambahan. Golongan kedua beramal disertai dengan rasa ta'dhim, takut, harapan, dan cinta. Rasa takut (khouf) merupakan cambuk yang mendorongnya untuk beribadah. Harapan (roja') menjadi pengendali yang menuntunnya, dan rasa cinta menjadi penyemangatnya. Orang yang takut (kho'if) akan beribadah dengan disertai kepayahan. Hanya saja rasa takut itu akan menjadikannya merasa enteng menghadapi hal yang lebih ringan, walaupun hal itu sebenarnya berat. Adapun orang yang mempunyai rasa cinta, dia beramal dengan mengrahkan segenap kemampuannya tanpa beban karena rindu terhadap kekasihnya sehingga semuanya terasa ringan dan dekat. Dia pun tidak akan melihat dirinya sebagai orang yang telah menunjukkan rasa cintanya dan mensyukuri nikmat."
Pada dasarnya Allah tidak akan mengingkari janjiNya kepada orang yang telah melaksanakan syarat-syarat dengan benar dan ikhlas. Hanya saja orang yang mengetahui syarat itu dan mampu melaksanakannya hanyalah orang yang ma'rifat kepada Allah dan hatinya dipenuhi oleh rasa cinta dan ta'dhim kepadaNya. Mereka bukan orang yang bermu'amalah dengan Allah hanya sebatas melaksanakan rukun-rukun Islam saja dan selalu menghitung-hitung amal yang sudah dikerjakannya, seperti yang dikatakan Imam Asy Syathibi. Mereka adalah orang yang benar-benar paham akan firman Allah:
ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ [إبراهيم : 14]
Artinya : "Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku."
Dan firmanNya yang lain:
وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ [البقرة : 40]
Artinya : "Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan Hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)."
Syekh Sa'id Romadlon Al Buthi menceritakan kisah menarik seputar tema di atas. Beliau diberi kabar oleh salah seorang tentara Syria yang kalah perang pada tahun 1967. Tentara itu pulang ke Damaskus bersama rombongan pasukannya. Di tengah perjalanan, waktu solat sudah masuk dan mereka pun mencari tempat yang layak guna melaksanakan solat. Pada saat mereka sedang khusyuk- khusyuknya, lewatlah di depad mereka sekelompok pasukan asing. Mereka tertarik melihat pemandangan di depan mereka. Setelah selesai solat, mereka bertanya: "Allah tidak menolong kalian dalam peperangan ini. Kenapa kalian tetap solat?"
Syekh Al Buthi berkata pada tentara itu: "Seharusnya kalian menjawab seperti ini: Kami solat sebagai bentuk syukur kami kepada Allah karena Dia tidak menyiksa kami dng kehinaan, kebinasaan, dan goncangan gempa. Tidak pula dengan hujan batu dari langit. Karena sebenarnya kami pantas mendapatkan hukuman yang lebih berat dari kekalahan ini."
Salah seorang wali yang soleh pernah ditanya seseorang: "Ya Syekh, sudilah anda untuk memperlihatkan salah satu karomahmu pada kami. Agar kami bertambah iman kepada Allah." Syekh itu berkata: "Bukankah kamu sudah melihat karomahku setiap waktu?" Orang itu berkata: "Kami tidak melihat karomah apapun, ya Syekh."
Syekh itu berkata lagi: "Bukankah kamu telah melihat diriku ini bebas berjalan di bumi ini tanpa ditenggelamkan ke dasar bumi oleh Allah? Tanpa dihujani dengan meteor dan api? Bukankah itu merupakan sebuah karomah (kemulyaan) dari Allah? Sebenarnya aku berhak untuk disiksa semacam itu sebab kelalaianku dan kelancanganku terhadap perintah-perintahNya. Akan tetapi Allah malah melindungiku dengan kasih sayangNya sehingga aku tidak dibinasakan seperti umat-umat terdahulu."
Apa yang dikatakan oleh wali ini keluar dari lubuk hatinya, bukan hasil rekayasa atau pura-pura. Perkataan semacam itu keluar dari orang yang hatinya penuh rasa ta'dhim dan takut kepada Allah. Apalagi jika orang itu merenungi ayat ini:
أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ (17) [الملك : 17]
Artinya : "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?"
Sudah merupakan sunnatullah, bahwa Allah akan membiarkan orang-orang yang durhaka, memberikan seluruh kenikmatan dunia kepada mereka, dan menundukkan dunia sesuai dengan keinginan nafsu mereka, agar mereka tambah terlena dan lalai. Kemudian setelah mati, mereka akan disiksa dengan sangat pedih dan menyakitkan. Allah akan menyiksa mereka dengan siksaannya dzat yang maha kuasa dan maha perkasa. Renungilah ayat-ayat yang menerangkan sunnatullah ini:
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3) [الحجر : 3]
Artinya : "Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)."
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ (42) [إبراهيم : 42]
Artinya : "Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak."
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (182) وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ (183) [الأعراف : 182 ، 183]
Artinya : "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh."
Dan sunnatullah ini, beserta ayat-ayat di atas merupakan jawaban atas kenyataan yang kalian kita, yang membuat heran orang-orang bodoh. Kenyataan bahwa umat yang sesat dan berbuat lacut bebas berkeliaran dan mendapatkan kenikmatan dan kesenangan yang tak terhitung. Kenikmatan itu pada hakikatnya sangat sedikit dan tidak kekal, seperti yang dikatakan Allah. Jika waktunya tiba, dan tak ada yang tahu kecuali Allah, kenikmatan itu berubah menjadi kesengsaraan dan kebinasaan.
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (44) [الأنعام : 44]
Artinya : "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka binasa."
Jika sekarang ada orang yang berkata: Kenapa Allah menghalangi kami, orang Islam, dari janjiNya. Sedangkan mereka, orang zalim dan pembangkang, dimulyakan dengan diberi kenikmatan yang tidak pernah dijanjikan kepada mereka? Maka ketahuilah, ucapannya itu hanya akan menyebabkan terhapusnya bashiroh dan berpaling dari firman Allah, yang jika dia merenunginya, dia akan menemukan sunnatullah yang berlaku terhadap makhlukNya

Source : http://ppalanwar.com/index.php/news/787/15/Kebenaran-Janji-Allah.html

Jumat, 22 Mei 2015

-- Keutamaan Menutupi Aib Orang Lain --

Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf :
-- Keutamaan Menutupi Aib Orang Lain --
Ada salah seorang yang menceritakan kepada saya (red. Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf Jeddah) sebuah kisah yang sangat menakjubkan. Dikisahkan ada seorang laki-laki yang berasal dari kota Madinah Al-Munawaroh telah bermimpi bertemu Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan ketahuilah mimpi bertemu Rasulullah adalah haq (benar).
Dalam mimpi tersebut, Rasulullah berkata kepadanya, “Berilah kabar gembira kepada Fulan bin Fulan yang tinggal di kota Makkah bahwa dia akan bersamaku insya Allah”. Maka laki-laki ini pun pergi ke Makkah untuk menemui Fulan bin Fulan sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah dalam mimpi tersebut.
Setelah sampai di Makkah, dia bertanya-tanya tentang si Fulan ini. Ketika ditanyakan tentang si Fulan, tidak ada seorang pun yang mau menunjukannya kecuali yang ia temukan justru apabila nama Fulan ini disebut maka mereka orang-orang penduduk Makkah tidak memperdulikannya. Hingga pada suatu hari, ia pun berhasil menemukan sosok si Fulan setelah bersusah payah mencarinya. Barulah ia tahu bahwa si Fulan ini ternyata seorang yang paling jahat dan paling buruk akhlaknya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak membaguskan shalatnya dan senantiasa melakukan maksiat. Saat berjumpa dengannya, dia pun bertanya kepada si Fulan:
“Wahai Fulan, apakah amalan sholeh yang Engkau lakukan sepanjang hidupmu yang Engkau rasa Allah menerimanya?”.
Si Fulan menjawab, “Sepanjang hidupku tidak ada amal sholeh yang telah aku lakukan yang aku berharap dengannya”.
Dia bertanya lagi, “Tidak, coba ingat-ingat adakah perbuatan baik yang pernah Engkau lakukan?”.
“Mungkin ada sesuatu perbuatan yang baik semasa aku menikah. Pada waktu malam pertama, istriku berkata: ‘Tutuplah aibku niscaya Allah akan menutup aibmu karena aku sedang mengandung (hamil) anak di luar nikah’. Maka aku merahasiakan perkara ini dengan penuh kesabaran dan tidak memberitahu siapapun hingga ia melahirkan bayi itu. Selepas kelahiran bayi itu, aku mengambilnya dan aku pergi ke tempat Sa’i dan meletakannya di atas Bukit Shofa. --- Lantas terdengar jeritan, ‘Ada bayi kecil di sini!’. Maka ramailah orang-orang berdatangan dan berkumpul kemudian mencari-cari keluarga si bayi ini. Dan aku hanya sekedar memperhatikan sampai pembicaraan reda. Kemudian aku pun datang dan berkata, ‘Aku akan membesarkan bayi ini sampai keluarganya menuntutnya’. --- Lalu aku mengambil bayi itu pulang kepada ibunya dan mengasuhnya sampai sekarang. Tidak ada seorang pun yang tahu akan hal ini kecuali Engkau sekarang. Tidak ada siapapun yang mengetahui tentang ini kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala”, jawab Fulan.
Maka laki-laki itu pun berkata, “Subhanalloh, amal inilah yang telah membawa Engkau ke tahapan seperti ini. --- Aku telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam memberi kabar gembira kepadamu bahwa Engkau akan bersamanya kelak”.
Si Fulan pun terkesan mendengar berita tersebut lalu menangis dan ini menjadi sebab taubat baginya dan penerimaan Allah terhadapnya.
Sungguh kisah ini memberikan makna dan pelajaran yang sangat penting. Wahai saudaraku, manusia pada hari ini jika melihat keburukan yang kecil pada seseorang, mereka tidak tahu bagaimana menutupinya. Saat ini manusia lemah dalam menutup keburukan orang lain. Di dalam saluran dan program televisi, internet, dan lain sebagainya, niscaya engkau mendapatkan manusia sekarang begitu suka membuka aib orang lain. Bahkan mereka tidak suka menutup aib orang lain.
Maka lihatlah dirimu sendiri duhai saudaraku, yang suka membuka aib orang lain, maka ketahuilah sifat ini sifat yang buruk dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jika menemukan pada dirimu suka menutup aib orang lain, maka ketahuilah itu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu merupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung,
“Sesungguhnya Allah Maha Menutup dan Dia suka menutup aib hambaNya”. Bahkan setiap manusia perlu melindungi dirinya jika ia melihat aib pada diri seseorang, dengan tidak menyebut aibnya.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa menutup aib ini mempunyai beberapa tingkatan. Setinggi-tinggi tingkatan tersebut adalah jika dia melihat aib pada diri orang lain maka ia menutup aib itu dari dirinya sendiri.
Ada seorang pemuda yang aku kenal telah menceritakan kepadaku. Bahwa dia telah melakukan segala maksiat, dan kita berlindung kepada Allah dari padanya. Namun, Allah memuliakannya dengan taubat. Semasa musim haji, selepas hari Arafah di Mina, dia meminta kepadaku untuk dipertemukan dengan seorang Guruku (Syaikh), maka aku pun mengatur pertemuan tersebut. Ketika berjumpa dengan Syaikh tersebut, dia mulai menceritakan segala keburukannya, “Wahai Tuan, aku telah melakukan perkara yang buruk”.
Lalu Syaikh itu diam kemudian berkata, “Wahai Fulan, Allah telah menutup aibmu maka janganlah Engkau membukanya kepadaku. Akan tetapi kita baru pulang dari Arafah, insya Allah kita berperasangka baik bahwa Allah telah mengampuni dosamu, maka janganlah menyebut segala dosa dan maksiatmu. Mulailah hidupmu dengan permulaan yang baru”.
Aku merasa kagum dengan kejadian ini dan aku mengambil iktibar dari sebaik-baik pelajaran Syaikh kepada pemuda tersebut. Bahwa Syaikh ini tidak suka membuka aib saudara muslim yang lain.
Sayangnya perkara yang banyak disukai oleh kebanyakan orang justru mengetahui aib orang lain dan menyebarluaskannya, lalu ia menyangka ini perkara yang baik. Oleh karena itu, akhlak ini, akhlak menutup aib orang lain, merupakan akhlak yang agung dan kita perlu berusaha ke arahnya (meneladaninya). Kita berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kita akhlak ini, sehingga menutup aib kita di akhirat kelak.
Kita sangat ingin agar Allah menutup aib kita karena jika Allah membuka aib kita niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk bersandingan dan bersalaman dengan kita di dunia ini. Maka sebagaimana engkau ingin aibmu ditutupi, tutuplah aib hamba Allah niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aibmu.
Wallahu a'lam
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala alihi washobihi wasalim

Jumat, 17 April 2015

Di Balik Kesulitan

Renungan 2: Kesulitan
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Alam Nasyrah:5-6).

     Jika kita membaca ayat ini, mengapa kita harus takut. Sebab jika saat ini kita
sedang sulit, maka esok kemudahanlah yang akan menghampiri kita. Ayat ini
sungguh memberikan inspirasi bagi kita yang sedang mengalami kesulitan, ayat
yang memberikan dorongan kepada kita untuk tetap bertahan, tetap semangat
dalam menghadapi hidup yang penuh kesulitan.

       Kemudahan, atau pertolongan Allah SWT, akan datang. Tenanglah! Seperti
tenangnya Nabi Musa as. saat akan tersusul oleh pasukan Fir’aun, seperti
diceritakan dengan indah dalam Al Quran,
Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari
terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-
pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa
menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku,
kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS. Asy Syu'araa':60-62).

          Jika kita meneladani Nabi Musa as., kita juga bisa mengatakan “sesungguhnya
Allah bersamaku, Dia akan memberikan petunjuk kepadaku” saat kita ditimpa
masalah yang seolah-olah tidak akan bisa hadapi atau selesaikan. Jadi,
janganlah bersedih dan janganlah berputus asa saat kesulitan menghimpit kita,
karena dengan pertolongan Allah SWT, kemudahan akan datang kepada kita.

Jangan pernah terhimpit, karena keadaan akan berubah. Seperti sebuah lagu
dari mendiang Chrisye, Badai pasti berlalu. Tunggulah kemudahan tersebut,
sudah dijamin koq oleh Allah dalam Al Quran yang mustahil salah. Tentu saja
sambil mengharap pertolongan Allah dengan shabar dan shalat. Hari esok
adalah ghaib, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bisa saja esoklah
datangnya kemudahan tersebut. Jadi selalu ada harapan di hari esok. Justru jika
kita tidak memiliki harapan di hari esok, artinya kita sudah sok mengetahui apa
yang akan terjadi esok hari. Kita menganggap esok hari akan seperti ini saja,
maka sama artinya kita mendahului ketentuan Allah SWT. Allahlah yang
menentukan hari esok akan seperti apa, dan kita memang tidak diberitahu. Bisa
saja besok hidup kita lebih baik. Besok, selalu ada harapan untuk kita.

Begitu juga dengan rezeki, mungkin saat ini begitu sulit karena akan ada
kemudahan setelah ini. Jangan sampai kita menyerah dengan cara tidak mau
mencari rezeki yang lebih besar karena takut kehilangan rezeki yang sudah ada.
Ada juga yang berharap kepada orang dengan cara menjilat dan merendahkan
diri dihadapan orang lain.

Allah sudah menyiapkan rezeki bagi kita, jadi meskipun saat ini serasa sulit,
sebenarnya sudah Allah siapkan untuk kita. Kemudahan akan kita dapatkan
setelah kesulitan ini.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
(QS. Huud:6).

Hikmah Kesulitan

Daripada tenggelam dengan kesedihan akibat kesulitan, mengapa kita tidak
berusaha mengambil hikmah dengan cara berprasangka baik kepada Allah
SWT. Mungkin dengan datangnya kesulitan kepada kita, agar kita:

1. memiliki hati yang lebih kuat, sebab kesulitan menguatkan hati kita
2. sadar dengan segala kekurangan dan kesalahan sehingga kita bertaubat
    dan dosa kita diampuni.
3. bebas dari rasa ‘ujub, kesulitan adalah bisa saja sebagai teguran karena
    kita merasa bisa dan merasa pintar
4. tidak lalai, sudah nyata kesulitan ada dihadapan kita
5. lebih banyak mengingat Allah SWT
6. lebih bershabar, karena mungkin saja kesulitan ini adalah latihan
    bershabar

Senin, 02 Maret 2015

Makna " Sampaikan Walaupun Satu Ayat "

Saudaraku, ingatlah amanat Nabi "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat".
Tahukah kalian, apakah amanat itu?
Amanat itu adalah rahmat dan kasih sayang, sebab beliau diutus sebagai rahmat untuk semesta.
Maka berusahalah menebarkan rahmat di dirimu, walaupun kau baru memilikinya sepenggal ayat.
Jika kau berlaku kasar terhadap siapa pun di bumi, maka kau melalaikan amanat itu.
Amanat itu adalah budi pekerti, sebab beliau diutus untuk menyempurnakan budi pekerti manusia.
Aisyah ra berkata, "Budi pekerti Nabi adalah alQuran" Maka berusahalah, menjadikan dirimu berbudi pekerti, walau kau baru mampu sepenggal ayat darinya.
Jika kau berbudi buruk kepada siapa pun di muka bumi ini, maka kau melalaikan amanat Nabi Saw, walau kau shalat seribu rakaat, dan berpuasa sepanjang tahun, atau mengkhatamkan alQuran setiap hari.
Nabi Saw mengislamkan orang kafir, namun mengapa banyak umatnya di zaman ini, mengkafirkan orang yang sudah Islam?
Nabi Saw, mendekatkan hamba yang jauh, lalu mengapa di zaman ini banyak mereka yang mengaku menjalankan sunnah Nabi, justru menjauhkan orang yang dekat?
Nabi Saw, memudahkan manusia jalan menuju surga. Dia bersabda, "Permudahlah, jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira, janganlah kalian ucapkan hal-hal yang menjauhkan."
Namun mengapa sekelompok muslim, Justru mempersulit, dan menjauhkan manusia dari surga?
Saudaraku, janganlah kalian melalaikan amanat ini. Sebab kelak beliau Saw akan menjadi saksi bagi kalian. Entah saksi bagi kebaikan, atau saksi atas keburukan.
@husinnabil

Keindahan Rasulullah SAW


======Keindahan Rasulullah SAW======

Seorang lelaki bertanya kepada Albarra’ bin Azib ra : “Apakah wajah Rasul saw seperti pedang ?” (bukankah beliau banyak berperang, apakah wajahnya bengis bak penguasa kejam?), maka menjawablah Albarra’ bin Azib ra : “Tidak.. tapi bahkan wajah beliau bagai Bulan Purnama..”, (kiasan tentang betapa lembutnya wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang) (Shahih Bukhari hadits no.3359, hadits serupa Shahih Ibn Hibban hadits no.6287).

Diriwayatkan oleh Jabir bin samurah ra : “wajah beliau saw bagaikan Matahari dan Bulan” (Shahih Muslim hadits no.2344, hadits serupa pada Shahih Ibn Hibban hadits no.6297), demikian pula riwayat Sayyidina Ali.kw, yang mengatakan : “seakan akan Matahari dan Bulan beredar di wajah beliau saw”. (Syamail Imam Tirmidzi), demikian pula diriwayatkan oleh Umar bin khattab ra bahwa “Rasul saw adalah manusia yang bibirnya paling indah”.

Al Imam Alhafidh Syeikh Abdurrahman Addeba’I mengumpulkan ciri ciri sang Nabi saw : “Beliau saw itu selalu dipayungi oleh awan dan diikuti oleh kabut tipis, hidung beliau saw lurus dan indah, Bibirnya bagaikan huruf Miim (kiasan bahwa bibir beliau tak terlalu lebar tak pula sempit dan sangat indah), Kedua alisnya bagaikan huruf Nuun, (kiasan bahwa alis beliau itu tebal dan sangat hitam dan bersambung antara kiri dan kanannya)”.

Dari Abi Jahiifah ra : “Para sahabat berebutan mengambil telapak tangan beliau dan mengusapkannya di wajah mereka, ketika kutaruh telapak tangan beliau saw diwajahku ternyata telapak tangan beliau saw lebih sejuk dari es dan lebih wangi dari misik” (Shahih Bukhari hadits no.3360).

Berkata Anas ra : “Tak kutemukan sutra atau kain apapun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tak kutemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.3368). “Kami tak melihat suatu pemandangan yg lebih menakjubkan bagi kami selain Wajah Nabi saw”. (Shahih Bukhari hadits no.649 dan Muslim hadits no.419) “Ketika perang Uhud wajah Rasul saw terluka dan mengalirkan darah segar, maka putrinya yaitu Sayyidah Fathimah ra mengusap darah tersebut dan Sayyidina Ali kw memegangi beliau saw, namun ketika terlihat darah itu terus mengalir, maka diambillah tikar dan dibakar, maka debunya ditaburkan diluka itu, maka darahpun terhenti”. (Shahih Bukhari hadits no.2753)
.
Dari anas bin malik ra : “Dan saat itu dirumah hanya aku, ibuku dan bibiku, lalu selepas shalat beliau berdoa untuk kami dengan kebaikan Dunia dan Akhirat, lalu Ibuku berkata : “doakan pelayanmu ini wahai Rasulullah..” (maksudnya Anas ra), maka Rasul saw mendoakanku dan akhir doanya adalah : “Wahai Allah Perbanyak Hartanya dan keturunannya dan berkahilah” (Shahih Muslim hadits no.660).

“Dan beliau saw itu adalah manusia yg terindah wajahnya, dan terindah akhlaknya” (Shahih Bukhari hadits no.3356) . “Dan beliau saw itu adalah manusia yg termulia dan manusia yg paling dermawan, dan manusia yang paling berani” saw (Shahih Bukhari hadits no.5686).

Dari Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah.., bila kami memandang wajahmu maka terangkatlah hati kami dalam puncak kekhusyu’an, bila kami berpisah maka kami teringat keduniawan, dan mencium istri kami dan bercanda dengan anak anak kami” (Musnad Ahmad Juz 2 hal.304, hadits no.8030 dan Tafsir Ibn katsir Juz 1 hal.407 dan Juz 4 hal.50).

siang dan malam seluruh Ummat ini ruku dan sujud, bermilyar wajah menyungkur sujud kehadirat Nya hingga akhir zaman, mereka mensucikan Nama Nya yang Maha Tunggal, merekalah yang selalu dalam naungan Rahmat dan keridhoan Nya, Sebagaimana sabda beliau saw : “Dijadikan kesenanganku adalah shalat”. Shalat merupakan Ibadah yang paling dicintai oleh beliau saw, dan “Shalat adalah Cahaya”, demikian sabda beliau saw pula mengenalkan Indahnya shalat, suatu ibadah yang diawali dengan Takbiratul Ihram yang membuka gerbang penghadapan dengan Rabbul ‘alamin, lalu lantunan kalimat-kalimat surat Alfatihah yang bila dibaca dengan khusyu maka setiap kalimat itu dijawab oleh Raja Alam Semesta, lalu lantunan kalimatullah itu menerangi seluruh alam sanubarinya, meruntuhkan dosa-dosanya, lalu ia ruku’, bertasbih kepada Nya, bertakbir, bertahmid, lalu bersujud dibawah Naungan Kelembutan dan Kasih Sayang Nya, alangkah indahnya ibadah yang satu ini, suatu ibadah yang terangkai dari hampir seluruh bentuk Ibadah, Wudhu, Niat Mulia, Doa, Alqur’an, Takbir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Istighfar, Ruku’, Sujud, khusyu, Tuma’ninah….., itulah shalat.., Ibadah yang paling sempurna.

Demikianlah ummat ini melakukannya siang dan malam untuk sumpah baktinya kepada Allah Pencipta Alam Semesta, Namun dalam Ibadah yang Multi Sempurna ini…, tak luput…., tak luput…, tak luput…., tak seorangpun melakukan shalat terkecuali diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw…

dan diwajibkan Nya bershalawat pada Muhammad saw…

“Salam Sejahtera atasmu wahai Nabi dan Rahmat Allah dan keberkahan Nya….”, kalimat ini merupakan kalimat yang diwajibkan Allah yang harus ada dalam Ibadah termulia ini.. Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?,

Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id bin Ma’la ra sedang shalat dan ia mendengar panggilan Rasul saw memanggilnya, maka Abu Sa’id meneruskan shalatnya lalu mendatangi Rasul saw dan berkata : Aku tadi sedang shalat Wahai Rasulullah.., maka Rasul saw bersabda : “Apa yang menghalangimu dari mendatangi panggilanku?, bukankah Allah telah berfirman “WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DATANGILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL NYA BILA IA MEMANGGIL KALIAN”.(Al Anfal 24). (Shahih Bukhari hadits no.4204, 4370, 4426, 4720). Dan bahwa mendatangi panggilan Rasul saw ketika sedang shalat tak membatalkan shalat, dan mendatangi panggilan beliau lebih mesti didahulukan dari meneruskan shalat, karena panggilan beliau adalah Panggilan Allah swt, perintah beliau saw adalah perintah Allah swt, dan ucapan beliau saw adalah wahyu Allah swt…

Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?, Diriwayatkan pula disaat perang Hunain selesai, Rasul saw memberi pada Sofwan 100 ekor unta, lalu 100 ekor lagi dan 100 ekor lagi, berkata Sofwan : “Sungguh Ia (Rasul saw) adalah orang yang paling kubenci, namun ia tak henti hentinya memberiku sampai ia menjadi orang yang paling kucintai” (Shahih Muslim hadits no.2313). Alangkah penyantunnya Nabi kita ini, bukanlah kecintaan Sofwan karena pmberian harta, namun kebenciannya luntur menghadapi manusia mulia yang memberinya dan saat ia tak berterimakasih justru ia ditambah lagi.. dan lagi…, tidak pernah kita temukan seorang dermawan dimuka Bumi yang setelah ia memberi dan yang diberi tak berterimakasih malah ia menambahnya lagi dan lagi, dan sesekali bukanlah barang yang murah, karena harga seekor Unta hampir menyamai 40 ekor kambing, dan beliau memberikannya 100 ekor onta, dan Sofwan tak berterimakasih dan tetap membencinya, beliau menambahnya lagi 100 ekor unta, lalu menambah lagi 100 ekor unta, lunturlah Sofwan.. ia lebur.. tak ada lagi yang lebih dicintainya selain Muhammad saw..

Jadilah beliau saw ini idola para sahabat, dan dalam riwayat lain, Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw, Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480). Alangkah besar penghormatan para sahabat pada tempat tempat yg disentuh Tubuh Rasulullah saw, Bahkan gunung Uhud mencintai beliau saw dan dicintai oleh beliau saw sebagaimana sabdanya saw : “Gunung Uhud ini mencintai kita dan kita mencintainya” (Shahih Bukhari hadits no.3854).

Betapa Indahnya Alam semesta ini semua beridolakan Muhammaa saw, mencintai Muhammad saw, Memuliakan Muhammad saw, tak lain karena Allah telah mengumumkannya, sebagaimana Sabda beliau saw : “Bila Allah mencintai seorang Hamba maka Allah berkata kepada Jibril as : WAHAI JIBRIL, AKU MENCINTAI FULAN MAKA CINTAILAH IA”, maka berkatalah Jibril as menyeru kepada Alam Semesta : “Wahai Penduduk Langit, Sungguh Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah ia, maka diberikanlah padanya Kasih sayang dimuka Bumi, maka ia dicintai dibelahan Bumi” (Shahih Bukhari hadits no.3037, 5693, 7047). Dan kita memahami bahwa Pengumuman itu terus berkumandang mengumumkan orang-orang yang dicintai Allah, dan tentunya pengumuman itu bergema terluhur dan terdahsyat saat mengumumkan Nama Muhammad saw….!, Maka Beliau saw dicintai Gunung, dicintai batang korma, hewan, manusia, jin, malaikat, dan orang-orang mukmin.. Beruntunglah Jiwa orang orang yg mencintai Muhammad saw.

“SUNGGUH ALLAH DAN PARA MALAIKAT MELIMPAH
KAN SHALAWAT ATAS NABI (saw) WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BERSHALAWATLAH KALIAN KEPADANYA DAN BERSALAM LAH DENGAN SEMULIA MULIA SALAM” (QS Al Ahzab-56

Google Santri