Selasa, 03 Februari 2015

Yang Terbaik Adalah Pilihan Allah

        Yang Terbaik Adalah Pilihan Allah

Khutbah Pertama

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ

Amma ba’du

Kaum muslimin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala

Khatib mewasiatkan kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada AllahTabarak awa Ta’ala. Takwa dalam pengetian sebenarnya menaati perintahnya dan menjauhi semua larangan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللهَ

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (QS. An Nisa: 131)

Takwa adalah wasiat Allah, wasiat rasul-rasul-Nya, dan wasiat orang-orang shaleh kepada sahabat-sahabat mereka.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita, kekasih kita, penyejuk hati kita Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat, serta pengikutnya hingga akhir zaman.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala

Yang terbaik adalah pilihan Allah. Sesungguhnya yang lebih mengetahui tentang kemaslahatan kita adalah pencipta kita. Dia-lah Allah yang telah menciptakan kita dan mengetahui apa yang terbaik untuk kita, Dia mengetahui perkara-perkara gaib di masa depan, Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَلاَيَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al Mulk: 14)

Terkadang kita merencanakan sesuatu, menurut prasangka dan perkiraan kita, apa yang kita rencanakan adalah yang terbaik bagi diri kita. Kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun ternyata kita gagal setelah berusaha, tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.

Namun ingatlah, kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala

Jika seorang hamba telah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan adalah yang terbaik bagi hamba tersebut. Kenapa? Karena yang terbaik adalah pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’alaberfirman,

وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Kemudian Allah tutup ayat ini dengan kalimat,

وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa: 19)

Ada seorang ulama di masa lalu, ia memiliki seorang anak yang sangat berbakti. Bakti sang anak ini sangat luar biasa, hingga membuat orang-orang takjub dengan perbuatannya tersebut. Mereka pun bertanya, apa rahasianya sehingga anak ini bisa begitu berbakti. Ulama tersebut menjawab, ini lantaran saya sangat bersabar menghadapi ibunya.

Ibunya mungkin bukan seorang wanita yang shalehah, mungkin bukan wanita yang begitu diharapkan, akan tetapi karena sabarnya ulama tersebut menghadapi istrinya, lahirlah seorang anak yang begitu berbakti dari rahim istri tersebut. Kalau seandainya ia ceraikan istrinya, mungkin ia tidak mendapatkan anak yang sangat berbakti seperti anaknya saat ini. Ternyata Allah mengharapkan kebaikan yang begitu banyak kepada ulama tersebut dengan lantaran ia bersabar menghadapi istrinya yang tidak begitu shalehah.

Kaum muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan beberapa contoh di dalam Alquran, bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik, yang terkadang di luar imajinasi kita, di luar dugaan kita, di luar daya hayal kita.

Contohnya seperti kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Allah Ta’ala menyebutkan kisah yang sangat luar biasa tentang Nabi Yusuf di dalam Alquran.

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ

“Kami kisahkan kepadamu (wahai Muhammad) kisah yang terbaik.” (QS. Yusuf: 3)

Kisah siapa? Kisah Nabi Yusuf. Kisah yang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Bagaimana Allah Subahanahu wa Ta’ala memberikan karunia kepada Nabi Yusuf dalam bentuk ujian-ujian. Oleh karenanya kata para ulama –di antaranya Ibnu Qayyim rahimahulla- terkadang karunia atau anugerah Allah berikan dalam bentuk ujian. Dan ini yang pernah dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Kita tahu bagaimana nanti di akhir kisah Nabi Yusuf menjadi seorang al-aziz, seorang menteri yang mulia, yang dihormati oleh pendudu negeri Mesir. Bagaimana ceritanya Nabi Yusuf bisa menjadi seorang yang mulia? Ternyata dengan rangkai ujian dan cobaan.

Dari awal kisah, Allah sebutkan dalam surat Yusuf. Diawali dengan hasadnya saudara-saudara Nabi Yusuf terhadapnya, akhirnya ia dipisahkan dari ayahandanya dan dilemparkan ke dalam sumur. Ini ujian yang pertama, dipisahkan dari sang ayah dan dilemparkan ke dalam sumur, namun Nabi Yusuf sabar dalam menghadapinya. Dipisahkan dari sang ayah, yang mebuat sang ayah, Nabi Ya’qub, begitu sedih, demikian juga Yusuf kecil, beliau sangat bersedih atas musibah ini. Ayah yang mencitainya, ayah yang menyayanginya, ayah yang mengayominya selama ini, harus terpisah darinya. Beliau diuji dengan ujian ini dan dilemparkan oleh saudara-saudaranya ke adalam sumur. Ternyata di masa mendatang ini adalah sebuah anugerah, namun anugerah tersebut akan digapai melalui jalan ujian-ujian.

Kemudian yang kedua. Ada orang yang sedang lewat, lalu ingin mengambil air dari sumur tersebut, ternyata ada anak kecil, Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Orang yang menemukan ini, bukan malah menyelamatkan dan membebaskan Nabi Yusuf, malah dia menjadikan beliau seorang budak untuk dijual. Bayangkan! seorang yang merdeka dijadikan barang dagangan untuk dijual. Ini musibah kedua yang dialami Nabi Yusuf.

Akan tetapi ternyata, tatkala Nabi Yusuf menjadi budak ini, ini adalah langkah menuju kebahagiaan. Nabi Yusuf dibeli oleh pembesar negeri Mesir, kemudian dirawat di istana yang megah, dan akhirnya Nabi Yusuf menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Lalu muncullah musibah berikutnya.

Nabi Yusuf dirayu oleh pemaisuri untuk diajak berzina. Nabi Yusuf menolak sehingga beliau dijebloskan ke dalam penjara. Ini ujian yang ketiga. Bayangkan! Ujian setelah ujian. Beliaupun tetap bersabar.

Kemudian setelah beberapa saat di penjara, datanglah dua orang yang ingin ditafsirkan mimpinya. Nabi Yusuf menafsirkan mimpi kedua orang tersbut dengan mengatakan ‘engkau akan dibunuh. Sedangkan engau akan selamat dan menjadi pelayan yang menuangkan minuman untuk sang raja’. Lalu Nabi Yusuf berpesan kepada orang yang akan selamat ini, ‘Jangan lupa engkau sebutkan kebaikan-kebaikanku di sisi sang raja’. Apa maksud Nabi Yusuf? Apabila sang raja mengetahui bahwasanya Nabi Yusuf adalah orang yang shaleh, yang mampu menafsirkan mimpi, maka Nabi Yusuf akan dibebaskan dari penjara.

Ternyata Allah menakdirkan lain, orang yang telah bebas ini lupa untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan Nabi Yusuf di sisi sang raja. Akhirnya, bertambah beberapa tahun lagi Nabi Yusuf harus mendekam di penjara gara-gara orang ini lupa.

Ternyata Allah punya sekenario yang lain. Lupanya orang tersebut ternyata adalah sebuah anugerah.  Sampai kapan? Sampai sang raja sendiri yang bermimpi.

إِنِّي أَرَى سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنبُلاَتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ

“Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” (QS. Yusuf: 43)

Tatkala itu tidak ada seorang pun yang mampu menafsirkan mimpi sang raja, akhirnya ingatlah orang tersebut bahwa Nabi Yusuf mampu menafsirkan mimpi. Ia mengatakan,

وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ

Orang itu teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).” (QS. Yusuf: 45)

Allah menjadikan orang ini ingat tatkala sang raja langsung yang bermimpi. Nabi Yusuf pun menafsirkan mimpi sang raja dan masyhurlah Nabi Yusuf sebagai seorang yang hebat. Akhirnya Nabi Yusuf pun diangkat menjadi seorang menteri yang mulia.

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah.

Lihatlah! Rentetan ujian yang dihadapi Nabi Yusuf ternyata semua itu kesimpulannya adalah anugerah, kesimpulannya adalah karunia, Allah hendak mengangkat Nabi Yusuf sebagai seorang pembesar di negeri Mesir bahkan seorang raja. Tidak hanya itu, dengan lantaran itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan Nabi Yusuf membawa ayah, ibu, saudara-saudaranya tinggal bersama di negeri Mesir dari kehidupan yang sulit menuju kehidupan yang lapang. Ini adalah anugerah yang sangat luar biasa, walaupun ceritanya tidak seperti yang kita bayangkan. Tidak semua anugerah datang dengan jalan penuh kenikmatan, sebagaimana karunia yang didapatkan Nabi Yusuf haru melewati berbagai ujian.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

الحمد لله الذي ظهر لأوليائه بنعوت جلاله. وأنار قلوب أصفيائه بمشاهدة صفات كماله. وتحبب إلى عباده بما أسداه من إنعامه وإفضائه. أحمده سبحانه حمد عبد أخلص لله في أقواله وأفعاله. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ولا معين في تدبيره وأفعاله. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله نبي أنعم الله على جميع أهل الأرض ببعثه وإرساله. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى جميع أصحابه وآله وسلم تسليما كثيرا

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala

Demikianlah karunia Allah, terkadang didapatkan dengan penuh kesedihan yang harus dihadapi dengan kesabaran. Takdir dan ketetapan Allah adalah yang terbaik. Allah adalah Maha Bijaksana dalam takdir-Nya, Maha Mengetahui apa yang akan terjadi. Hendaknya kita berbaik sangka terhadap Allah, bukan malah meratapi apa yang kita hadapi. Ingatlah setelah kesulitan itu ada kemudahan.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala.

Kisah berikutnya adalah kisah ringan yang juga penuh pelajaran agar kita berbaik sangka kepada pilihan Allah. Walaupun kisah ini apakah shahih benar-benar terjadi atau tidak, namun ini sebuah ilustrasi yang bisa kita petik pelajaran di dalamnya.

Ada sebuah kisah seorang raja dan seorang menteri. Menterinya ini senantiasa berkata

الخَيْرُ خِيْرَةُ اللهِ

Yang terbaik adalah pilihan Allah.

Setiap ada orang yang terkena musibah, akan dinasehati oleh sang menteri dengan mengatakan, yang terbaik adalah pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Suatu saat sang raja yang terkena musibah, jari raja ini terputus karena suatu hal. Sang menteri datang dengan tetap mengatakan, wahai raja yang terbaik adalah pilihan Allah. Jarimu putus itu adalah yang terbaik.

Mendengar ucapan menterinya ini, raja pun tersinggung dan marah. Dia mengatakan, “Jari saya putus yang terbaik?! Penjarakan dia!”

Tatkala di penjara, dengan mudah menteri ini mengatakan, yang terbaik adalah pilihan Allah.

Ternyata benar, suatu saat sang raja pergi berburu bersama bawahannya untuk berburu atau suatu keperluan. Mereka terjebak, pergi ke tempat yang jauh, lalu mereka ditangkap oleh segeromblan orang penyembah dewa tertentu. Mereka ditangkap dan disembelih satu per satu sebagai tumbal untuk dewa-dewa mereka. Tatkala Tiba giliran sang raja, mereka dapati jari raja ini putus, mereka anggap raja ini orang yang cacat yang tidak pantas dikorbankan untuk sesembahan mereka. Raja pun dibebaskan.

Saat itulah sang raja sadar akan kebenaran perkataan menterinya. Jarinya yang putus ini adalah suatu kebahagiaan, merupakan anugerah, sehingga dia tidak jadi dibunuh oleh orang-orang tersebut. Ia pulang dengan begitu semangat, lalu membebaskan sang menteri. Raja mengatakan, “Benar perkataanmu, yang terbaik adalah pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya selamat dari cengkraman mereka. Namun saya ingin bertanya, mengapa waktu engkau di penjara, kau katakan yang terbaik adalah pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Apa kebaikan yang kau alami di penjara?” Menteri menjawab, “Seandainya saya tidak di penjara, maka saya akan pergi turut serta berburu bersamamu, saya akan ditangkap dan disembelih oleh mereka. oleh karena itu, saya dipenjara adalah yang terbaik.”

Mudah-mudahan pelajaran-pelajaran dan kisah-kisah hikmah yang kami sampaikan ini bermanfaat bagi para jamaah sekalian. Mudah-mudahan kita menjadi seseorang yang senantiasa berprasangka baik terhadap Allah, dan meyakini bahwa takdirnya adalah pilihan yang terbaik untuk kita setelah kita berdoa dan berusaha.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

http://play.google.com/store/apps/details?id=com.muslimmedia.Khutbah1

Wasiat Untuk Suami Istri

Wasiat Untuk Suami dan Istri

Khutbah Pertama

Amma ba’du :

Wahai kaum muslimin dan muslimat ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, karena takwa adalah bekal terbaik sepanjang hidup dan sesudah mati.

Ayyuhal ikhwah wal akhawat ! Ada sebuah harapan mulia dan cita-cita luhur yang diidam-idamkan oleh setiap suami dan istri. Ada keinginan mendesak yang diharapkan oleh setiap pengantin. Bila harapan, cita-cita dan keinginan itu terwujud maka panji-panji cinta dan bahagia akan berkibar di atas keluarga dan kata-kata kasih dan sayang akan bergema di sudut-sudutnya. Bila tidak, rumah tangga akan tenggelam di dalam lautan gelisah dan nestapa, serta bahteranya akan dihempaskan oleh gelombang keburukan dan permusuhan ke dalam samudera bencana dan malapetaka.

Saudara-saudara ! Itulah dia “Kabahagiaan Rumah Tangga”. Merupakan harta yang sulit dicari di zaman ini, dan barang langka sepanjang masa. Karena persoalan kemasyarakatan sosial kian membesar, persoalan rumah tangga kian menumpuk dan berada di garda depan dalam barisan masalah-masalah umat dan masyarakat. Ini adalah peringatan akan adanya ancaman bahaya yang besar dan kerusakan yang luas terhadap Negara dan bangsa, dalam urusan dunia dan Akhirat.

Wahai kaum muslimin dan muslimat ! Salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada hambaNya ialah rumah tangga. Allah memberinya pasangan hidup yang mulia sebagai salah satu tanda kekuasaanNya, sebagai penenang hati, kasih sayang, pakaian dan teman setia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :


وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Ruum :21)

Dan Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman :


وَاللهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah (QS. An-Nahl :72)

Dirumahnya seorang suami bisa menemukan tempat berlabuh yang mulia dan ketenangan jiwa setelah lelah bekerja. Ia bisa mengibaskan debu-debu kejenuhan dan kebosanan dari dirinya. Ia dapat meluruhkan kesulitan hidup dengan senyuman yang manis, wajah yang ceria, kata-kata yang lembut, perlakuan yang halus, persaan yang hangat dan emosi yang meluap. Ia diimbangi oleh pasangan hidupnya, teman perjalanannya, belahan jiwanya dan ibu dari anak-anaknya. Dan dirumahnya seorang istri bisa menemukan sarang keluarga yang bahagia dan tempat hidup yang enak. Di rumah itu lahirlah generasi baru yang shalih dan istimewa di bawah naungan naluri ayah yang penyayang dan naluri ibu yang pengasih, jauh dari pemicu ketegangan dan keglisahan, pengganggu kenikmatan, dan pengundang kesengsaraan dan kekacauan.

Begitulah, Islam menginginkan agar keluarga bisa menjadi markas kebaikan, cinta dan keharmonisan, dan bisa menjadi benteng dalam berbakti, berkasih sayang dan perdamaian. Islam meminta kedua pilar utama keluarga suami dan istri agar bisa menjadi contoh dalam hal kerjasama yang baik dan pelaksanaan hak dan kewajiban masing-masing. Atas dasar itulah kebahagiaan rumah tangga tidak terletak pada pakaian yang mewah, makanan yang enak, dan penghidupan yang segar. Melainkan pada kasih sayang, cinta dan kerjasama. Sesungguhnya rumah tangga yang berdiri di atas pondasi pertengkaran dan perseteruan, dipenuhi cobaan dan masalah adalah benar-benar rentan terhadap hantaman badai kehancuran dan topan perceraian, jauh dari ketenangan batin dan harapan kemapanan.

Wahai kaum muslimin dan muslimat ! Wahai para suami dan istri ! Ikatan suami istri adalah ikatan yang memiliki akar yang dalam, pilar yang kokoh, dan dasar yang jauh. Ini dijelaskan oleh firman Allah Subhanahu Wata’ala :


لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. (QS. Ar-Ruum :21)

Ini menegaskan adanya ketenteraman (di dalam rumah tangga) dalam bentuk yang paling tinggi dan makna yang paling atas. Dan juga dijelaskan oleh firmah Allah Subhanahu Wata’ala :


هُنَّ لِبَاسُُ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسُُ لَّهُنَّ

Mereka (istri-istri kamu) itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. (QS. Al-Baqarah :187)

Allahu Akbar ! Lihatlah keindahan bahasa Al-Qur’an yang menggambarkan hubungan antara suami dan istri seperti hubungan antara manusia dan pakaian. Apa yang lebih dekat dan lebih lekat dengan seseorang selain pakaiannya ? Dengan demikian pernikahan bukanlah sekedar ikatan duniawi, materi, birahi, dan hewani, melainkan ikatan ruhani dan jiwa yang mulia. Oleh karena itu Islam sangat getol dalam upaya memperkuat ikatan ini. Islam memerintahkan agar kita senantiasa menjaganya dan mengingatkan kita agar tidak gegabah dan lalai terhadapnya. Supaya mawar kebahagiaannya tidak layu, bunga kenyamanannya tidak mati, dan pohon ketahanannya tidak kering. Dan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa keseriusan dari pihak suami dan istri untuk melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing.

Saudara-saudara seiman dan seakidah ! Sepanjang suami istri harus mengetahui bahwa kesempurnaan hidup berumah tangga adalah sesuatu yang mustahil dicapai. Sebab, keterbatasan adalah watak dasar manusia. Maka, baik suami maupun istri harus bisa mengkondisikan dirinya untuk menerima kekurangan, memaklumi kesalahan, dan memaafkan kakhilafan. Karena tak ada gading yang tak retak.

Karena begitu pentingnya masalah ini maka Kitab Allah datang dengan penjelasan yang sangat lengkap. Sebagaimana diproklamirkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada umat ini di dalam pertemuan agung di padang Arafah. At-Tirmidzi dan lain-lain meriwayatkan dari Amr bin Ahwash Al-Jusyami Radiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di dalam Haji Wada’ :

“ Ingatlah ! Perlakukanlah kaum wanita (istri-istrimu) dengan baik. Sesungguhnya mereka adalah semacam tawanan di sisimu. Kamu tidak memiliki hak apapun dari mereka selain itu, kecuali mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, hindarilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka patuh kepadamu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyalahkan mereka. Ingatlah ! Sesungguhnya kamu punya hak atas istri-istrimu, dan istri-istrimu pun punya hak atas kamu. Adapun hak kamu atas istri-istrimu ialah mereka tidak boleh mengizinkan orang yang tidak kamu sukai menginjak tempat tidurmu dan tidak mengizinkan orang yang tidak kamu sukai masuk ke dalam rumahmu. Ingatlah ! Hak mereka atas kamu ialah kamu harus berbuat baik kepada mereka dalam memberikan pakaian dan makanan mereka.” (HR.At-Tirmidzi, 1163 dan Ibnu Majah,1851)

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda :

“ Perlakukanlah kaum wanita dengan baik, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya sesuatu yang paling bengkok pada tulang rusuk ialah bagian atasnya. Jika engkau membiarkannya, ia akan senantiasa bengkok. Jadi perlakukanlah kaum wanita dengan baik.” (Shahih Al-Bukhari, 5186 dan Shahih Muslim, 1468 )

Abu Daud meriwayatkan dari Muawiyah bin Haidah Radiyallahu ‘Anhu bahwa ia pernah bertanya : “ Ya Rasulullah, apa kewajiban kami kepada istri kami ?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“ Engkau harus memberinya makan jika engkau makan. Engkau harus memberinya pakaian jika engkau berpakaian. Jangan memukul wajah, jangan menjelek-jelekkannya, dan jangan menjauhinya kecuali di dalam rumah.” (Sunan Abu Daud, 2142 )

Lebih dari itu Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :


وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An-Nisa’ :19)


وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah :228)

Wahai para suami dan para istri ! Anda semua harus mengetahui kewajiban dan haknya masing-masing, lalu melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Demi Allah, seandainya masing-masing melaksanakan peran dan tugas masing-masing, niscaya tidak ada satu pun keluarga yang ditimpa masalah-masalah berat yang mengganggu tidur atau pertengkaran yang membuat rumah menjadi kosong.

Wahai para suami ! Bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan istri-istri anda. Laksanakanlah kewajiban anda. Jalankanlah tugas anda sebagai kepala rumah tangga sesuai dengan syari’at Allah. Tunaikanlah kewajiban anda dalam memberikan nafkah dan menyiapkan tempat tinggal menurut kemampuan anda.


أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلاَتُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. (QS.At-Thalaq :6)


لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَاهُ اللهُ لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَآءَاتَاهَا

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. (QS. At-Thalaq :7)

Pergaulilah istri-istri anda dengan baik. Perlakukanlah mereka dengan akhlak yang baik. Siapakah yang lebih berhak anda perlakukan dengan akhlak baik selain istri-istri anda, pendamping hidup anda ?

Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang paling baik kepada istri-istrinya.” (Al-Musnad, 2/472, Sunan Abi Daud, 4682, Jami’ At-Tirmidzi, 1162 dan Shahih Ibnu Hibban,4176 )

At-Tirmidzi juga meriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“ Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (Jami’ At-Tirmidzi, 3895 )

Wahai para suami ! Tunaikanlah kewajiban anda untuk tidur bersama istri-istri anda. Ajarilah mereka tentang urusan-urusan agama. Cemburulah kepada mereka, peliharalah kemuliaan dan kehormatan mereka. Jangan biarkan mereka keluyuran sesuka hati. Wajibkan kepada mereka menutup aurat secara benar dan menjaga kehormatan diri mereka dengan baik. Lindungilah mereka dari pemicu-pemicu keburukan dan kerusakan, media-media perusakan dan penghancuran, dan faktor-faktor penyebab timbulnya penyimpangan dan kejahatan.

Anda pasti heran melihat beragam perlakuan suami kepada istrinya. Ada suami yang di rumahnya tidak ada bahasa lain selain perintah dan larangan. Hobinya menunjukkan gigi taring dan mengaum. Kejam dan kesewenang-wenang. Tidak pandai bergaul, tidak ramah, susah memaafkan, cepat marah dan temperamental. Kalau berbicara seperti orang tolol. Kalau bertindak seperti orang dungu. Selalu cemberut dan enggan membantu istri. Kalau masuk rumah selalu menggerutu. Kalau keluar rumah selalu curiga. Tidak bisa lembut apalagi penyayang. Istrinya sangat menderita selama hidup bersamanya. Beragam kesengsaraan, cobaan dan ujian ia rasakan.

Ada istri yang mengeluh bahwa suaminya tidak pernah menghadiri shalat jum’at maupun shalat jama’ah. Ada istri yang melaporkan suaminya mengkonsumsi miras dan narkoba. Ada istri yang mengadu bahwa suaminya suka bergadang dan jarang pulang. Ada istri yang mengatakan bahwa suaminya berselingkuh. Dan seterusnya. Fana’udzubillah.

Wahai para suami ! Bertakwalah kepada Allah. Berikanlah hak-hak istri-istri anda, terutama ketika sudah tua, sakit atau masa talak raj’i. bagi anda yang ingin melakukan poligami, bertakwalah kepada Allah dalam menjaga keadilan di antara mereka. Jangan sampai anda mendzalimi istri tua dan menyayangi istri muda. Dalam hal ini anda pasti menemukan banyak keanehan dan kisah-kisah yang mengherankan. Ada wanita yang setelah dimadu tidak pernah bertemu dengan suaminya selama bertahun-tahun. Dan si suami pun tidak memenuhi kewajibannya kepada sang istri maupun kepada anak-anaknya. Allahumma sallim.

Wahai para istri ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dalam menghadapi suami anda. Patuhilah suami anda secara wajar. Dan lihatlah bagaimana sikap anda kepadanya ? Karena suami anda sangat menentukan Surga dan Neraka anda. Ketahuilah bahwa kedekatan anda dengan Allah dapat diukur dengan melihat seberapa besar keridhaan suami anda kepada anda secara wajar. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ummu Salamah Radiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Wanita manapun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadnya, pasti akan masuk surga.” ( Jami’ At-Tirmidzi, 1161 )

Jagalah rumah, harta benda dan anak-anak suami anda. Jangan membebaninya dengan nafkah yang terlalu banyak. Layanilah suami anda, berikanlah hak-haknya, dan jangan lalai dalam menjalankannya. Karena ada ancaman keras yang disebutkan di dalam Hadits Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“ Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya tetapi ia menolak, kemudian laki-laki itu melewatkan malamnya sambil memendam amarah, maka para malaikat akan mengutuknya sampai pagi.”

Dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan :

“ Demi dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya keranjangnya kemudian ia menolaknya, melainkan dzat yang ada di langit murka kepadanya sampai si suami ridha kepadanya.” (Shahih Al-Bukhari, 3237 dan Shahih Muslim, 1436 )

Allahul mustaan ! Relakah wanita beriman, berakal sehat, terhormat, merdeka, dan mulia dengan kondisi semacam itu ? dan kini, betapa banyak wanita yang kondisinya seperti itu. Wal iyadzu billah.

Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda :

“ Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari berkata : ‘Jangan sakiti dia ! Celakalah kamu, karena sesungguhnya dia hanya singgah di sisimu. Sebentar lagi dia akan meninggalkanmu ke tempat kami.” (Al-Musnad,5/242 dan Jami’ At-Tirmidzi,1174 )

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda :

“ Kalau saja aku bisa menyuruh seseorang bersujud kepada seseorang, niscaya aku telah menyuruh wanita bersujud kepada suaminya.” ( Jami’ At-Tirmidzi, 1159 )

Hal itu tidak lain karena besarnya hak suami atas istrinya. Wahai para istri, simaklah Hadits-hadits di atas dan amalkanlah isinya jika anda menginginkan hidup di dunia dan ganjaran di Akhirat.

Anda pasti tercengang dan prihatin melihat kondisi banyak wanita di rumahnya dan perlakuannya kepada suaminya.

Ada wanita yang hanya mengenal suaminya sebagai pembantu yang hina. Ia selalu menghujaninya dengan guyuran tuntunan dan kebutuhan, serta mengejutkannya dengan daftar belanja dan barang-barang pelengkap.

Ada wanita yang suka berbuat sewenang-wenang, berbicara kasar, memancing keributan, dan mencari-cari kesalahan. Ia tidak tahu terima kasih, suka membantah, tidak pernah puas dan punya rasa sayang. Bila sang suami masuk ke rumah, ia menemukan baju yang kusut, rambut yang acak-acakan dan sikap yang angkuh. Pagi hari banyak tidur. Sore hari banyak memaki. Ia selalu mengandalkan pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Yang ia tahu hanya keluyuran bersama teman-teman dan pergi ke pesta. Ia tidak peduli dengan agamanya dan tidak menghiraukan adab-adab dan akhlak. Ia suka mengumpat, mencaci maki dan marah besar untuk urusan yang spele. Ia tomboy dan berprilaku layaknya laki-laki. Ia sama sekali tidak punya kebaikan untuk keluarga, suami dan anak-anaknya. Ya Allah, ampunilah dia ! Dan jauhkanlah kami dari istri semacam itu, ya Allah.

Wahai kaum muslimin dan muslimat ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Para suami dan istri harus mau melaksanakan tugasnya masing-masing agar keluarga dan rumah tangga yang tersisa tidak di habisi oleh pertengkaran. Mudah-mudahan Allah berkenan memperbaiki hati, amal dan niat kita. Dan semoga Allah berkenan menganugerahi kita istri dan keturunan yang bisa meneduhkan mata dan menjadi pelipur lara. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ


Khutbah Kedua

Amma ba’du :

Ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Takutlah akan hari di saat anda dikembalikan kepada Allah. Ketahuilah bahwa keluarga dan rumah tangga hanya bisa baik dan makmur dengan taat kepada Allah dan menjauhi maksiat. Karena kemaksiatan bisa mendatangkan kesialan bagi keluarga dan merusak keharmonisan rumah tangga. Betapa banyak persatuan yang terpecah belah, kekuatan yang tercerai berai, keluarga yang terguncang, istri yang dicerai, anak-anak yang terlantar gara-gara kemaksiatan, baik yang didengar, dilihat, maupun dibaca.

Ketahuilah bahwa rumah adalah salah satu pos terpenting untuk menyebarkan iman dan melahirkan generasi yang mengerti akidah dan Al-Qur’an. Lebih-lebih di zaman sekarang. Dan ketahuilah bahwa musuh-musuh Islam tidak henti-hentinya melancarkan serangannya terhadap rumah tangga dan keluarga untuk meruntuhkan sendi-sendinya, merobohkan bangunannya, mengguncang kekompakannya dan membangkitkan pertengkaran suami istri. Hal itu didukung oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lalu mereka menyalakan api fitnah di antara suami dan istri. Dan banyak orang di luar keluarga yang berupaya merusak ikatan di antara mereka berdua.

Kepada para orang tua, hendaknya anda bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dalam menghadapi anak dan menantu anda. Jangan suka mencampuri kehidupan rumah tangga mereka, kecuali untuk kemaslahatan mereka. Jadikanlah rumah tangga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan dan model yang patut ditiru dalam upaya menggapai kebahagiaan dan merendam berbagai macam masalah dan pertengkaran.

Dan dengan tulus hati saya menyerukan kepada setiap pasangan suami istri yang mengalami percekcokan rumah tangga agar menutup buku masa lalu dan memulai hidup baru. Hidup yang penuh dengan tenggang rasa, cinta kasih dan serasi. Dan saya juga menyerukan terbentuknya lembaga pembinaan (konsultasi) rumah tangga untuk menyelesaikan percekcokan rumah tangga sebelum terjadi pengendapan masalah yang bertumpuk-tumpuk dan membutuhkan bantuan perantara sebagaimana disayari’atkan oleh Allah. Hendaknya pasangan suami istri terutama suami harus bisa mengendalikan diri dan tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk mengakhiri ikatan pernikahan. Karena akibatnya sangat serius dan dampaknya sangat besar terhadap individu dan masyarakat.

Simaklah contoh berikut ini yang patut ditiru dalam upaya menggapai kebahagiaan rumah tangga dan hubungan yang baik antara suami dan istri.

Di dalam perpustakaan tarikh disebutkan bahwa tatkala anak Ummu Sulaim binti Milhan, istri Abu Thalhah, meninggal dunia sementara Abu Thalhah sedang pergi berjihad di jalan Allah. Sampai ia pulang kerumah tidak ada seorang pun yang menyampaikan kepada Abu Thalhah perihal kematian anaknya. Ketika ia datang dan menanyakan perihal anaknya, Ummu Sulaim menjawab: “Dia lebih tenang dari pada sebelumnya. “Rupanya Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah sembuh dari sakitnya. Maka ia pun segera menyantap makanan yang disediakan. Kemudian Ummu Sulaim berdandan dan memakai wewangian. Lalu Abu Thalhah tidur bersamanya dan bercinta dengannya. Keesokan harinya, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya : “ Relakan kepergian anakamu.” Lalu Abu Thalhah menceritakan kisahnya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lantas beliau bersabda :

“Semoga Allah memberkati kalian berdua pada malam kalian itu.” (HR. Al-Bukhari, 1301,5470, Muslim, 2144 dan Ahmad, 3/105 )

Kemudian Ummu Sulaim melahirkan anak bernama Abdullah bin Abi Thalhah. Lalu Abdullah dikaruniai 10 orang anak yang semuanya menjadi ahli qira’at, ulama dan mujahid.

Ini adalah salah satu contoh hubungan yang ideal antara suami dan istri. Adakah yang mau mengikuti ? Alhamdulillah, ternyata banyak sekali.



إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab :56)



اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ 
http://play.google.com/store/apps/details?id=com.muslimmedia.Khutbah1

Minggu, 25 Januari 2015

Fitnah Dunia Dan Bahayanya

Fitnah Dunia Dan Bahayanya

الحمد لله الواحد القهار، كل شيئ هالك إلا وجهه، له الحكم وإليه ترجعون. الحمد لله الذي نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له يحيي ويميت، وهو حي لا يموت، بيده الخير وهو على كل شيء قدير. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، بعثه الله رحمة للعالمين، ونورا وهدى للمتقين.
يا أيها اللذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تسآءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا. يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما. أما بعد:
فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.
اللهم صل وسلِّم على نبيّنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة.
Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan selalu menjalankan setiap perintah-Nya dan perintah Nabi-Nya Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan-Nya dan larangan Nabi-Nya Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk konsekwensi mahabbah (kecintaan) kita kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan kepada Rasul-Nya. Selalu berharap Surga dan merasa takut terhadap adzab dan siksa-Nya. Kita senantiasa interopeksi diri dan muhasabah (berhitung) atas amalan yang telah kita lakukan. Dengan itu kita akan memiliki perhitungan dan tolak ukur yang jelas, sudahkah diantara kita telah membekali diri dengan bekal yang baik untuk menghadapi perhitungan Allah Jalla wa ‘Ala di saat tidak akan ada lagi pertolongan melainkan pertolongan-Nya. Dan pada saat itu harta dan anak keturunan seseorang tidak akan berharga disisiNya. Sebagaimana Allah Jalla wa ‘Ala berfirman di dalam surat asy-Syu'ara', ayat 88-89:

يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ {88} إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."
Yaitu, hati yang selamat dari kesyirikan dan keraguan dalam beragama, selamat dari ketergantungan kepada keburukan, dan sering melakukan segala bentuk perkara bid’ah dan dosa.
Semoga kita yang hadir di majelis yang mulia ini, tergolong orang-orang yang mendapatkan pertolongan, perlindungan dan penjagaan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Kalau kita perhatikan dan cermati secara seksama apa yang terjadi di sekeliling kita atau yang kita baca dan dengar dari media masa saat ini. Nampak sebuah fenomena yang seharusnya menjadikan setiap kita prihatin dan mawas diri agar setiap kita tidak termasuk dari golongan mereka yang telah melampaui batas.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah, Sekian banyak bentuk kedhaliman, kejahatan, kemaksiatan telah menjadi pemandangan dan wabah yang serius. Diantara kaum muslimin sudah tidak bisa lagi menghargai darah dan nyawa seseorang sehingga pembunuhan terjadi di mana-mana. Diantara kaum Muslimin tidak bisa lagi menghargai harta dan hak serta kehormatan orang lain, padahal itu semua telah dilindungi oleh Islam sejak 14 abad silam setelah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi dan Rasul. Di saat yang sama berapa banyak kita dapati wanita melahirkan anak tanpa diketahui siapa suaminya, anak-anak lahir tanpa diketahui siapa bapaknya, seorang bapak telah tega-teganya menzinai anaknya, aborsi terjadi di mana-mana, pergaulan bebas lawan jenis dan perselingkuhan serta segala bentuk perzinahan menjadi pemandangan yang wajar dan tidak tabu lagi di kalangan sebagian kaum Muslimin.
Di sisi yang lain, kita melihat sebagian orang berlomba-lomba untuk memperebutkan kekuasaan dan jabatan sehingga sampai tidak lagi melihat batas-batas syari’at yang seharusnya dipegang teguh, segala cara mereka lakukan dengan target untuk meraih singga sana, dan segala cara mereka tempuh setelah terpilih untuk mendapatkan kemewahan dan kenikmatan kekuasaan tersebut dengan menerjang norma-norma agama, dan pada akhirnya tidak sedikit dari mereka dengan kekuasaan yang mereka perebutkan itu, justru mereka terfinah.
Itu semua terjadi, karena mereka telah meninggalkan agama yang hanif (lurus) ini, menuruti hawa nafsu dan tertipu oleh gemerlapnya kehidupan dunia dan kemewahannya serta akibat tipu daya iblis laknatullahi alaihi.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Berkaitan erat dengan fitnah dunia secara khusus Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah memberikan peringatan keras. Diantaranya sebagaimana yang termaktub di dalam surat al-Kahfi ayat 45, Allah Ta’ala berfirman,

وَاضْرِبْ لهُّمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِراً
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Dalam ayat yang lain pada surat al-Hadid, ayat 20, Allah Ta’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur.Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Suatu ketika Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam shahihnya, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata,

أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,”. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam ath-Thirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani Rahimahullaah,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menuturkan,

لو كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.”
Demikianlah Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada setiap hamba-Nya betapa besar bahaya fitnah dunia dengan segala isinya, demikian pula Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan gambaran (ilustrasi) yang jelas agar setiap kita hati-hati agar tidak terjerumus ke dalam fitnahnya.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Marilah kita menengok sejenak kepada bagaimana para Sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam menyikapi kehidupan dunianya dan akhir hayatnya.
Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, pernah menceritakan bahwa sebagian para sahabat meneteskan air mata, manakala mengingat akhir hayat dari kehidupan dunia mereka, ditanyakan kepada mereka kenapa sampai demikian? Salah seorang diantara mereka menjawab: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

إن الله تعالي قبض خلقه قبضتين، فقال: هؤلاء في الجنة وهؤلاء في النار، ولا أدري في أي القبضتين كنت؟
“Sesunggunya Allah Ta’ala menggenggam penciptaanNya dalam dua genggaman, mereka di Surga dan mereka yang lain di neraka, dan aku tidak tahu aku akan berada dalam genggaman yang mana.”
Sahabat Hudzaifah bin Yaman Radhiyallaahu ‘anhu berkata,

كان الناس يسألون رسول الله عن الخير وكنت أسأله عن الشر مَخافة أن يدركني
"Suatu ketika manusia (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan sedangkan aku bertanya tentang kejelekan karena khawatir akan menimpaku." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sahabat Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu mengatakan,

إنكم لتعلمون أعمالا هي أدق في أعينكم من الشعر إن كنا لَنَعُدُّها على عهد رسول الله من الموبقات يعني المهلكات
"Sungguh kalian melakukan suatu amalan yang kalian sangka lebih ringan dari sehelai rambut, padahal kami pada zaman Rasulullah menganggap hal itu sebagai amalan yang membinasakan." (HR. al-Bukhari dan Ahmad)
Berkata sebagian Salaf,

ما أبكى العيون ما أبكاها الكتاب السابق.
“Tidaklah mata ini menangis kecuali karena memikirkan taqdir akhir hayat yang telah ditentukan oleh Allah Taala.”
Suatu saat Sufyan ast-Tsauri didapati gelisah dan resah karena memikirkan akhir hayatnya, bahkan dia meneteskan air mata seraya berkata,

أخاف أن أكون قي أم الكتاب شقيا، أخاف أن أسلب الإيمان عند الموت
“Aku khawatir kalau akhir hidupku di dalam kitab induk (catatan takdir Allah) termasuk yang sengsara, dan aku takut imanakan dicabut (dariku) ketika (menghadapi) kematian” (HR. abu Nu’aim dalam al-Hilyah)
Diceritakan Malik bin Dinar selalu bangun malam sambil memegangi janggutnya dan berkata,

يا رب قد علمت ساكن الجنة من ساكن النار، ففي أي الدارين منزل مالك؟
“Ya Rabbi, sungguh Engkau telah mengetahui penduduk Surga dari penduduk neraka, maka ada di mana Malik (bin Dinar) di antara keduanya.” (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah)
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Tatkala orang-orang yang memiliki keutamaan dan kemuliaan dari kalangan Sahabat dan Tabi'in (as-Salafush Shalih) mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menghinakan dunia, sehingga mereka mengkhawatirkan akhir hidup mereka, maka mereka pun enggan untuk tenggelam dalam kesenangannya. Apatah lagi mereka mengetahui bahwa Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia penuh kezuhudan dan memperingatkan para shahabatnya dari fitnah dunia tersebut. Mereka pun mengambil dunia sekedarnya dan mengeluarkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak-banyaknya. Mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka tinggalkan yang melalaikan.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundaknya, beliau berkata,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. al-Bukhari)
Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pun memegang teguh wasiat Nabinya baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah menyampaikan hadits tersebut,

إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح ، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحّتك لمرضك ، ومن حياتك لموتك
“Bila engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, maka janganlah menanti datangnya sore. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.” (HR. al-Bukhari)
Di dalam hadits yang lain Rasulullah mengajarkan, bagaimana beliau selalu berlindung dari fitnah dunia dan beliau panjatkan di akhir shalat beliau, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari yang bersumber dari Amr bin Maimun, beliau berdoa,

اللهم إني أعوذ بك من الجُبْنِ، وأعوذ بك من البُحْلِ، وأعوذ بك أن أُرَدَّ إلى أَرْذَلِ العُمْرِ، وأعوذ بك من فتنة الدنيا، وأعوذ بك من عذاب القبر
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling hina (pikun), serta aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan adzab kubur.” (HR. al-Bukhari)
Maka barangsiapa yang mengambil perhiasan dunia dan meletakkannya sesuai dengan hak atau tempat yang semestinya, serta menjadikan perhiasan itu sebagai washilah untuk beribadah sebagai tujuan penciptaannya, niscaya perhiasan dunia tersebut akan menjadi bekal baginya. Perhiasan dunia akan menjadi tunggangan menuju negeri yang lebih mulia dan lebih kekal daripada dunia. Dengan begitu, sempurnalah baginya kebahagiaan duniawi dan akheratnya.
Namun, barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya yang paling utama dan keinginannya, padahal dia tidak akan diberi dari dunia ini selain sebatas apa yang telah ditetapkan baginya, niscaya akhir kesudahannya adalah kesengsaraan. Dia tidak bisa menikmati kelezatan dan syahwat (kesenangan) dunia selain hanya dalam waktu yang singkat, karena dunia itu memang kelezatannya sedikit sedangkan kesedihannya amatlah panjang.

بارك الله لى ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإيّاكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم،
أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Khutbah Kedua

الحمد لله الذي نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلّغ الرسالة وأدّى الأمانة ونصح للأمة وجاهد في الله حق جهاده.
صل الله عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه إلى يوم الدين وسلّم تسليما كثيرا.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabuut: 2-3)
Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah ini semua menjadi peringatan dan pelajaran bagi setiap kita. Dan marilah kita kembali ke jalan Allah dan Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan membekali diri dengan ilmu agama, bersegera untuk beramal shalih, serta berhati-hati atas keterikatan dan ketergantungan dengan sesuatu yang terlarang. Selayaknya hati, lisan dan anggota tubuh kita selalu mengingat Allah Ta’ala, dan menjaga diri supaya selalu dalam ketaatan kepada-Nya dalam kondisi dan situasi apapun. Iman seseorang akan bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang dengan kema’syiatan.
Maka mulai detik ini marilah kita bertaubat kepada Allah Jalla wa ’ala. Kembali ke jalan yang diridhai-Nya dan janganlah kita menjadi orang-orang yang menyesal dikemudian hari sebagaimana penyesalan orang-orang kafir ketika mereka dimasukkan ke neraka Jahannam padahal telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, mereka lalu mengatakan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَاكُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
"Dan mereka berkata: Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala."(QS. Al-Mulk: 10)

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد
اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم،إنك حميد مجيد
اللهم أعز الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين، ودمر أعداء الدين وانصر عبادك المؤمنين يا رب العالمين.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لنا دِينَِِنا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتَنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اللهم اجعل لجميع المسلمين من كل همّ فرجا، ومن كل ضيق مخرجا، ومن كل بلاء عافية. واجعل لهم من لدنك وليا، واجعل لهم من لدنك نصيرا.
ربنا اغفر لنا ولإخواننا اللذين سبقونا بالإيمان ولاتجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف الرحيم.
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى أله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين، وأقم الصلاة.

http://play.google.com/store/apps/details?id=com.muslimmedia.Khutbah1

Kamis, 31 Juli 2014

Meringankan Kesulitan Orang Lain

Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus, Pengasuh Majelis Ilmu Dan Dzikir Ar-Raudhah, Solo)
help-people-300x292Dalam perjalanan hidup ini, apa pun pekerjaan kita, tentu tidak terlepas dari kesulitan.  Bahkan langkah kaki ini terkadang terhenti karena beban berat yang menghadang di hadapan kita.  Tentunya kita tidak ingin terbelenggu oleh berbagai kesulitan hidup bukan? Kita butuh solusi, jalan keluar yang cepat dan tepat.  Bukan sekedar teori yang belum teruji kebenarannya untuk menyelesaikan permasalahan kita.  Sungguh beruntung kita sebagai umat Rasulullah saw, karena beliau saw telah memberikan solusi, jalan keluar yang sangat mudah, cepat dan tepat untuk mengatasi persoalan hidup kita.    
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.
Barang siapa yang membantu seorang Mukmin agar terlepas dari salah satu kesulitan dunia, maka Allah membebaskannya dari salah satu kesulitan akhirat.  Dan barang siapa meringankan beban seorang Muslim yang sedang terlilit hutang, maka Allah akan memudahkan urusan dunia dan akhiratnya.  (Hadits Sahih, diriwayatkan oleh Imam   Muslim)
Artinya, jika kita ingin masalah kita selesai, maka bantulah untuk menyelesaikan masalah orang lain, membantu meringankan beban saudara kita sesama muslim, baik dengan bantuan harta, tenaga maupun pikiran atau nasehat untuk kebaikan.  Misalnya, saat kita terlilit hutang, bingung bagaimana melunasi hutang-hutang kita, maka cobalah untuk membantu melunaskan hutang orang lain yang lebih kecil dari kita, atau menghibur orang-orang yang sedang bersedih.
Pernah suatu malam Auza’iy ‘memergoki’ Khalifah Umar masuk ke rumah seorang janda. Ketika keesokan harinya Auza’iy datang ke rumah itu, ternyata penghuninya seorang janda tua yang buta dan sedang menderita sakit. Janda itu mengatakan, bahwa tiap malam ada orang yang datang ke rumahnya untuk mengirim makanan dan obat-obatan, serta menyapu rumahnya. Akan tetapi janda tua itu tidak pernah tahu siapa orang itu, padahal orang yang mengunjunginya tiap malam tersebut tak lain adalah adalah khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu.
Selamat beramal, semoga sukses dunia akhirat.

Sumber  : http://beritalangit.com/meringankan-kesulitan-orang-lain/

Jadilah Orang Yang Cerdas

(Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, Pengasuh Majelis Ilmu Dan Dzikir Ar-Raudhah, Solo)

Termasuk yang manakah kita, orang yang cerdas atau bodoh?  Sangat jelas hidup ini sementara dan pasti kita akan meninggalkan dunia ini.  Kapan kita mati?  Tak ada satupun yang mampu menjawab pertanyaan ini.  Yang pasti kematian bisa menghampiri kita kapan pun juga.  Setelah mati, kita berada di mana?  Di alam kubur, hingga kiamat tiba, setelah itu dibangkitkan, dihalau ke padang mahsyar, didiamkan di sana ribuan tahun dengan tubuh telanjang dan matahari berada di atas kepala dengan jarak terdekat, kemudian dilakukan perhitungan amal, dan berakhir di Surga atau Neraka.
Artinya, di dunia hanya sesaat, sedangkan perjalanan Akhirat panjang dan abadi.  Sementara itu, kebahagiaan kita di sana, bergantung dengan cara hidup kita di sini (semasa hidup di dunia).  Seorang yang pintar, yang cerdas, tentu akan menggunakan setiap napasnya untuk mengumpulkan bekal sebanyak mungkin untuk Akhiratnya.  Oleh karena itu, sungguh benar sabda Rasulullah saw berikut:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمنَّى عَلَى الله
Orang yang cerdas adalah dia yang selalu memperhitungkan (mengamati) dirinya dan beramal untuk kehidupannya setelah kematian nanti, sedangkan orang yang lemah adalah ia yang senantiasa menuruti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.  (Hadits Hasan Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah danTirmidzi)
Yang dimaksud berangan-angan kepada Allah adalah ia berharap Allah akan mengampuni dan tidak menyiksanya, akan tetapi ia tidak beramal saleh dan tetap melakukan berbagai kemaksiatan.
Oleh karena itu, jadilah orang yang cerdas, mari kita bangun istana kita di Akhirat sekarang juga.  Jadikan setiap gerak dan diam kita untuk Akhirat kita.  Selamat beramal.

 Sumber   : http://beritalangit.com/jadilah-orang-yang-cerdas/

Google Santri