Minggu, 25 Januari 2015

Fitnah Dunia Dan Bahayanya

Fitnah Dunia Dan Bahayanya

الحمد لله الواحد القهار، كل شيئ هالك إلا وجهه، له الحكم وإليه ترجعون. الحمد لله الذي نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له يحيي ويميت، وهو حي لا يموت، بيده الخير وهو على كل شيء قدير. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، بعثه الله رحمة للعالمين، ونورا وهدى للمتقين.
يا أيها اللذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تسآءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا. يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما. أما بعد:
فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.
اللهم صل وسلِّم على نبيّنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة.
Jama’ah Shalat Jum’at Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan selalu menjalankan setiap perintah-Nya dan perintah Nabi-Nya Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan-Nya dan larangan Nabi-Nya Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk konsekwensi mahabbah (kecintaan) kita kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan kepada Rasul-Nya. Selalu berharap Surga dan merasa takut terhadap adzab dan siksa-Nya. Kita senantiasa interopeksi diri dan muhasabah (berhitung) atas amalan yang telah kita lakukan. Dengan itu kita akan memiliki perhitungan dan tolak ukur yang jelas, sudahkah diantara kita telah membekali diri dengan bekal yang baik untuk menghadapi perhitungan Allah Jalla wa ‘Ala di saat tidak akan ada lagi pertolongan melainkan pertolongan-Nya. Dan pada saat itu harta dan anak keturunan seseorang tidak akan berharga disisiNya. Sebagaimana Allah Jalla wa ‘Ala berfirman di dalam surat asy-Syu'ara', ayat 88-89:

يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ {88} إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."
Yaitu, hati yang selamat dari kesyirikan dan keraguan dalam beragama, selamat dari ketergantungan kepada keburukan, dan sering melakukan segala bentuk perkara bid’ah dan dosa.
Semoga kita yang hadir di majelis yang mulia ini, tergolong orang-orang yang mendapatkan pertolongan, perlindungan dan penjagaan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Kalau kita perhatikan dan cermati secara seksama apa yang terjadi di sekeliling kita atau yang kita baca dan dengar dari media masa saat ini. Nampak sebuah fenomena yang seharusnya menjadikan setiap kita prihatin dan mawas diri agar setiap kita tidak termasuk dari golongan mereka yang telah melampaui batas.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah, Sekian banyak bentuk kedhaliman, kejahatan, kemaksiatan telah menjadi pemandangan dan wabah yang serius. Diantara kaum muslimin sudah tidak bisa lagi menghargai darah dan nyawa seseorang sehingga pembunuhan terjadi di mana-mana. Diantara kaum Muslimin tidak bisa lagi menghargai harta dan hak serta kehormatan orang lain, padahal itu semua telah dilindungi oleh Islam sejak 14 abad silam setelah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi dan Rasul. Di saat yang sama berapa banyak kita dapati wanita melahirkan anak tanpa diketahui siapa suaminya, anak-anak lahir tanpa diketahui siapa bapaknya, seorang bapak telah tega-teganya menzinai anaknya, aborsi terjadi di mana-mana, pergaulan bebas lawan jenis dan perselingkuhan serta segala bentuk perzinahan menjadi pemandangan yang wajar dan tidak tabu lagi di kalangan sebagian kaum Muslimin.
Di sisi yang lain, kita melihat sebagian orang berlomba-lomba untuk memperebutkan kekuasaan dan jabatan sehingga sampai tidak lagi melihat batas-batas syari’at yang seharusnya dipegang teguh, segala cara mereka lakukan dengan target untuk meraih singga sana, dan segala cara mereka tempuh setelah terpilih untuk mendapatkan kemewahan dan kenikmatan kekuasaan tersebut dengan menerjang norma-norma agama, dan pada akhirnya tidak sedikit dari mereka dengan kekuasaan yang mereka perebutkan itu, justru mereka terfinah.
Itu semua terjadi, karena mereka telah meninggalkan agama yang hanif (lurus) ini, menuruti hawa nafsu dan tertipu oleh gemerlapnya kehidupan dunia dan kemewahannya serta akibat tipu daya iblis laknatullahi alaihi.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Berkaitan erat dengan fitnah dunia secara khusus Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah memberikan peringatan keras. Diantaranya sebagaimana yang termaktub di dalam surat al-Kahfi ayat 45, Allah Ta’ala berfirman,

وَاضْرِبْ لهُّمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِراً
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Dalam ayat yang lain pada surat al-Hadid, ayat 20, Allah Ta’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur.Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Suatu ketika Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam shahihnya, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata,

أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,”. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam ath-Thirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani Rahimahullaah,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menuturkan,

لو كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.”
Demikianlah Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada setiap hamba-Nya betapa besar bahaya fitnah dunia dengan segala isinya, demikian pula Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan gambaran (ilustrasi) yang jelas agar setiap kita hati-hati agar tidak terjerumus ke dalam fitnahnya.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Marilah kita menengok sejenak kepada bagaimana para Sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam menyikapi kehidupan dunianya dan akhir hayatnya.
Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, pernah menceritakan bahwa sebagian para sahabat meneteskan air mata, manakala mengingat akhir hayat dari kehidupan dunia mereka, ditanyakan kepada mereka kenapa sampai demikian? Salah seorang diantara mereka menjawab: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

إن الله تعالي قبض خلقه قبضتين، فقال: هؤلاء في الجنة وهؤلاء في النار، ولا أدري في أي القبضتين كنت؟
“Sesunggunya Allah Ta’ala menggenggam penciptaanNya dalam dua genggaman, mereka di Surga dan mereka yang lain di neraka, dan aku tidak tahu aku akan berada dalam genggaman yang mana.”
Sahabat Hudzaifah bin Yaman Radhiyallaahu ‘anhu berkata,

كان الناس يسألون رسول الله عن الخير وكنت أسأله عن الشر مَخافة أن يدركني
"Suatu ketika manusia (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan sedangkan aku bertanya tentang kejelekan karena khawatir akan menimpaku." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sahabat Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu mengatakan,

إنكم لتعلمون أعمالا هي أدق في أعينكم من الشعر إن كنا لَنَعُدُّها على عهد رسول الله من الموبقات يعني المهلكات
"Sungguh kalian melakukan suatu amalan yang kalian sangka lebih ringan dari sehelai rambut, padahal kami pada zaman Rasulullah menganggap hal itu sebagai amalan yang membinasakan." (HR. al-Bukhari dan Ahmad)
Berkata sebagian Salaf,

ما أبكى العيون ما أبكاها الكتاب السابق.
“Tidaklah mata ini menangis kecuali karena memikirkan taqdir akhir hayat yang telah ditentukan oleh Allah Taala.”
Suatu saat Sufyan ast-Tsauri didapati gelisah dan resah karena memikirkan akhir hayatnya, bahkan dia meneteskan air mata seraya berkata,

أخاف أن أكون قي أم الكتاب شقيا، أخاف أن أسلب الإيمان عند الموت
“Aku khawatir kalau akhir hidupku di dalam kitab induk (catatan takdir Allah) termasuk yang sengsara, dan aku takut imanakan dicabut (dariku) ketika (menghadapi) kematian” (HR. abu Nu’aim dalam al-Hilyah)
Diceritakan Malik bin Dinar selalu bangun malam sambil memegangi janggutnya dan berkata,

يا رب قد علمت ساكن الجنة من ساكن النار، ففي أي الدارين منزل مالك؟
“Ya Rabbi, sungguh Engkau telah mengetahui penduduk Surga dari penduduk neraka, maka ada di mana Malik (bin Dinar) di antara keduanya.” (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah)
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Tatkala orang-orang yang memiliki keutamaan dan kemuliaan dari kalangan Sahabat dan Tabi'in (as-Salafush Shalih) mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menghinakan dunia, sehingga mereka mengkhawatirkan akhir hidup mereka, maka mereka pun enggan untuk tenggelam dalam kesenangannya. Apatah lagi mereka mengetahui bahwa Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia penuh kezuhudan dan memperingatkan para shahabatnya dari fitnah dunia tersebut. Mereka pun mengambil dunia sekedarnya dan mengeluarkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak-banyaknya. Mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka tinggalkan yang melalaikan.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundaknya, beliau berkata,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. al-Bukhari)
Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pun memegang teguh wasiat Nabinya baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah menyampaikan hadits tersebut,

إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح ، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحّتك لمرضك ، ومن حياتك لموتك
“Bila engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, maka janganlah menanti datangnya sore. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.” (HR. al-Bukhari)
Di dalam hadits yang lain Rasulullah mengajarkan, bagaimana beliau selalu berlindung dari fitnah dunia dan beliau panjatkan di akhir shalat beliau, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari yang bersumber dari Amr bin Maimun, beliau berdoa,

اللهم إني أعوذ بك من الجُبْنِ، وأعوذ بك من البُحْلِ، وأعوذ بك أن أُرَدَّ إلى أَرْذَلِ العُمْرِ، وأعوذ بك من فتنة الدنيا، وأعوذ بك من عذاب القبر
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling hina (pikun), serta aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan adzab kubur.” (HR. al-Bukhari)
Maka barangsiapa yang mengambil perhiasan dunia dan meletakkannya sesuai dengan hak atau tempat yang semestinya, serta menjadikan perhiasan itu sebagai washilah untuk beribadah sebagai tujuan penciptaannya, niscaya perhiasan dunia tersebut akan menjadi bekal baginya. Perhiasan dunia akan menjadi tunggangan menuju negeri yang lebih mulia dan lebih kekal daripada dunia. Dengan begitu, sempurnalah baginya kebahagiaan duniawi dan akheratnya.
Namun, barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya yang paling utama dan keinginannya, padahal dia tidak akan diberi dari dunia ini selain sebatas apa yang telah ditetapkan baginya, niscaya akhir kesudahannya adalah kesengsaraan. Dia tidak bisa menikmati kelezatan dan syahwat (kesenangan) dunia selain hanya dalam waktu yang singkat, karena dunia itu memang kelezatannya sedikit sedangkan kesedihannya amatlah panjang.

بارك الله لى ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإيّاكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم،
أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Khutbah Kedua

الحمد لله الذي نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلّغ الرسالة وأدّى الأمانة ونصح للأمة وجاهد في الله حق جهاده.
صل الله عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه إلى يوم الدين وسلّم تسليما كثيرا.
Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabuut: 2-3)
Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah ini semua menjadi peringatan dan pelajaran bagi setiap kita. Dan marilah kita kembali ke jalan Allah dan Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan membekali diri dengan ilmu agama, bersegera untuk beramal shalih, serta berhati-hati atas keterikatan dan ketergantungan dengan sesuatu yang terlarang. Selayaknya hati, lisan dan anggota tubuh kita selalu mengingat Allah Ta’ala, dan menjaga diri supaya selalu dalam ketaatan kepada-Nya dalam kondisi dan situasi apapun. Iman seseorang akan bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang dengan kema’syiatan.
Maka mulai detik ini marilah kita bertaubat kepada Allah Jalla wa ’ala. Kembali ke jalan yang diridhai-Nya dan janganlah kita menjadi orang-orang yang menyesal dikemudian hari sebagaimana penyesalan orang-orang kafir ketika mereka dimasukkan ke neraka Jahannam padahal telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, mereka lalu mengatakan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَاكُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
"Dan mereka berkata: Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala."(QS. Al-Mulk: 10)

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد
اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم،إنك حميد مجيد
اللهم أعز الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين، ودمر أعداء الدين وانصر عبادك المؤمنين يا رب العالمين.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لنا دِينَِِنا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتَنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اللهم اجعل لجميع المسلمين من كل همّ فرجا، ومن كل ضيق مخرجا، ومن كل بلاء عافية. واجعل لهم من لدنك وليا، واجعل لهم من لدنك نصيرا.
ربنا اغفر لنا ولإخواننا اللذين سبقونا بالإيمان ولاتجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف الرحيم.
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى أله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين، وأقم الصلاة.

http://play.google.com/store/apps/details?id=com.muslimmedia.Khutbah1

Kamis, 31 Juli 2014

Meringankan Kesulitan Orang Lain

Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus, Pengasuh Majelis Ilmu Dan Dzikir Ar-Raudhah, Solo)
help-people-300x292Dalam perjalanan hidup ini, apa pun pekerjaan kita, tentu tidak terlepas dari kesulitan.  Bahkan langkah kaki ini terkadang terhenti karena beban berat yang menghadang di hadapan kita.  Tentunya kita tidak ingin terbelenggu oleh berbagai kesulitan hidup bukan? Kita butuh solusi, jalan keluar yang cepat dan tepat.  Bukan sekedar teori yang belum teruji kebenarannya untuk menyelesaikan permasalahan kita.  Sungguh beruntung kita sebagai umat Rasulullah saw, karena beliau saw telah memberikan solusi, jalan keluar yang sangat mudah, cepat dan tepat untuk mengatasi persoalan hidup kita.    
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.
Barang siapa yang membantu seorang Mukmin agar terlepas dari salah satu kesulitan dunia, maka Allah membebaskannya dari salah satu kesulitan akhirat.  Dan barang siapa meringankan beban seorang Muslim yang sedang terlilit hutang, maka Allah akan memudahkan urusan dunia dan akhiratnya.  (Hadits Sahih, diriwayatkan oleh Imam   Muslim)
Artinya, jika kita ingin masalah kita selesai, maka bantulah untuk menyelesaikan masalah orang lain, membantu meringankan beban saudara kita sesama muslim, baik dengan bantuan harta, tenaga maupun pikiran atau nasehat untuk kebaikan.  Misalnya, saat kita terlilit hutang, bingung bagaimana melunasi hutang-hutang kita, maka cobalah untuk membantu melunaskan hutang orang lain yang lebih kecil dari kita, atau menghibur orang-orang yang sedang bersedih.
Pernah suatu malam Auza’iy ‘memergoki’ Khalifah Umar masuk ke rumah seorang janda. Ketika keesokan harinya Auza’iy datang ke rumah itu, ternyata penghuninya seorang janda tua yang buta dan sedang menderita sakit. Janda itu mengatakan, bahwa tiap malam ada orang yang datang ke rumahnya untuk mengirim makanan dan obat-obatan, serta menyapu rumahnya. Akan tetapi janda tua itu tidak pernah tahu siapa orang itu, padahal orang yang mengunjunginya tiap malam tersebut tak lain adalah adalah khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu.
Selamat beramal, semoga sukses dunia akhirat.

Sumber  : http://beritalangit.com/meringankan-kesulitan-orang-lain/

Jadilah Orang Yang Cerdas

(Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, Pengasuh Majelis Ilmu Dan Dzikir Ar-Raudhah, Solo)

Termasuk yang manakah kita, orang yang cerdas atau bodoh?  Sangat jelas hidup ini sementara dan pasti kita akan meninggalkan dunia ini.  Kapan kita mati?  Tak ada satupun yang mampu menjawab pertanyaan ini.  Yang pasti kematian bisa menghampiri kita kapan pun juga.  Setelah mati, kita berada di mana?  Di alam kubur, hingga kiamat tiba, setelah itu dibangkitkan, dihalau ke padang mahsyar, didiamkan di sana ribuan tahun dengan tubuh telanjang dan matahari berada di atas kepala dengan jarak terdekat, kemudian dilakukan perhitungan amal, dan berakhir di Surga atau Neraka.
Artinya, di dunia hanya sesaat, sedangkan perjalanan Akhirat panjang dan abadi.  Sementara itu, kebahagiaan kita di sana, bergantung dengan cara hidup kita di sini (semasa hidup di dunia).  Seorang yang pintar, yang cerdas, tentu akan menggunakan setiap napasnya untuk mengumpulkan bekal sebanyak mungkin untuk Akhiratnya.  Oleh karena itu, sungguh benar sabda Rasulullah saw berikut:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمنَّى عَلَى الله
Orang yang cerdas adalah dia yang selalu memperhitungkan (mengamati) dirinya dan beramal untuk kehidupannya setelah kematian nanti, sedangkan orang yang lemah adalah ia yang senantiasa menuruti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.  (Hadits Hasan Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah danTirmidzi)
Yang dimaksud berangan-angan kepada Allah adalah ia berharap Allah akan mengampuni dan tidak menyiksanya, akan tetapi ia tidak beramal saleh dan tetap melakukan berbagai kemaksiatan.
Oleh karena itu, jadilah orang yang cerdas, mari kita bangun istana kita di Akhirat sekarang juga.  Jadikan setiap gerak dan diam kita untuk Akhirat kita.  Selamat beramal.

 Sumber   : http://beritalangit.com/jadilah-orang-yang-cerdas/

Senin, 24 Maret 2014

KH Muslih Abdurrahman Mranggen Demak


KH Muslih Abdurrahman Mranggen
Bagi kaum thariqah di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muslih Abdurrahman Mranggen tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN, yang sekaligus aktif dalam mengembangkan dan membesarkan Jam'iyah Ahlit Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (Jatman) hingga akhir hayat pada tahun 1981, membuat muridnya menyebut Kiai Muslih sebagai Abul Masyayekh dan Syeikhul Mursyidin.
Tak hanya itu, Kiai Muslih berjasa pula dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang, baik sebagai anggota laskar Hizbullah yang berlatih kemiliteran bersama Syeikh KH Abdulloh Abbas Buntet Cirebon dalam satu regu di Bekasi Jawa Barat, maupun ketika bergabung dengan komando pasukan Sabilillah yang beranggotakan para kiai/ulama di wilayah Demak selatan atau front Semarang wilayah Tenggara.
Kiai Muslih dilahirkan di Suburan Mranggen Demak, pada tahun 1908, dari pasangan Syekh KH Muslih bin Syeikh KH Abdurrohman dan Hj. Shofiyyah. Dari jalur ayah, silsilah kiai Muslih sampai kepada Syeikh Al-Jali atau Syeikh Al-Khowaji yang berasal dari Baghdad keturunan Sayyidina Abbas r.a, paman Nabi Muhammad saw. Sedangkan ibunya masih keturunan dari Sunan Ampel.
Sejak kecil Muslih sudah gemar ngaji. Tercatat, ia pernah berguru mulai dari ayahnya, Syekh KHAbdurrahman bin Qosidil Haq, hingga kepada para Masyayikh yang ada di Haromain, diantaranya Syeikh Yasin Al-Fadani Al- Makky. Kiai Muslih juga pernah menimba ilmu kepada Syeikh KH Ibrohim Yahya (Mranggen); KH Zuber, Syeikh Imam, Syeikh Imam, dan KH Maksum (Rembang); dan Syeikh Abdul Latif Al- Bantani. Selain itu, Kiai Muslih juga pernah belajar di Pesantren Termas Pacitan.
Dari hasil pendidikannya tersebut Kiai Muslih mendapatkan banyak ilmu seperti ilmu kalam Bahasa Arab, tauhid, fiqh, tafsir, hadist, Ilmu Tasawwuf dan berbagai ilmu lainnya.
Membesarkan Pesantren Futuhiyyah
Pondok Pesantren Futuhiyyah yang diasuh ayahnya mengalami rehabilitasi pada tahun 1927 M. Saat itu sudah ada puluhan santri yang ikut ngaji, namun aktifitas Madrasah tersebut menjadi terhenti, setelah diminta oleh NU cabang Mranggen. 
Selang beberapa waktu, Syekh KH Muslih berusaha mendirikan kembali Madrasah Diniyyah Awaliyyah Futuhiyyah di komplek Pesantren Futuhiyyah. Kali ini ia mengambil sikap, jika NU ingin mengelola Madrasah lagi supaya mendirikan sendiri. Keputusan tersebut  diambil karena, dua kali Futuhiyyah mendirikan Madrasah, yakni pada tahun 1927 dan 1929 M, dua kali pula diminta oleh NU Cabang Mranggen dengan cara Bedol Madrasah, yakni murid dan gurunya dipindah tempat, yang kemudian dikelola oleh NU Cabang Mranggen. Hal tersebut menjadikan aktivitas di Futuhiyyah menjadi sedikit terkendala.
Setelah madrasah baru yang didirikan oleh Kiai Muslih berjalan lancar, satu tahun kemudian beliau kembali mondok ke Termas dan pengelolaan madrasah diserahkan kepada adiknya, KH Murodi, yang baru pulang mondok dari Lasem. NU Cabang Mranggen, akhirnya juga dapat mendirikan sendiri Madrasah Diniyyah Awaliyyah dan dapat bertahan hingga sekarang, di Kauman Mranggen, yang dikenal kemudian dengan nama Madrasah Ishlahiyyah.
Kiai Muslih saat datang di Termas, langsung diminta oleh KH Ali Maksum (Krapyak Yogya), selaku kepala Madrasah di Termas saat itu, untuk mengajar kelas Alfiyyah. Semula Kiai Muslih menolak, dengan alasan belum mampu mengajar Alfiyyah. Namun setelah dibujuk gurunya, dia pun bersedia. Di Termas pula, Kiai Muslih belajar bagaimana cara mengajar yang baik dan bagaimana menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran sistem klasikal (madrasah).
Dengan berbekal Ilmu yang lebih luas dan pengalaman selama menjadi guru madrasah Tsanawiyyah di Termas itulah, pada tahun 1935 M Kiai Muslih pulang dan bermukim kembali di Suburan Mranggen. Dengan tekad untuk mengembangkan Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen. Pada tahun 1936 M berdirilah Madrasah Ibtida’iyyah. Madarasah tersebut terus berkembang dan bertahan sampai sekarang.
Ada hal yang menarik pada saat proses penerimaan siswa baru. Pada saat itu meskipun belum ada radio, tidak ada stensil, tidak ada pula mesin tulis apalagi fotocopy, namun info tentang madrasah di Mranggen berkembang luas. Banyak sekali calon santri, baik yang berasal dari desa-desa wilayah kecamatan Mranggen dan sekitarnya hingga Gubug-Purwodadi, berdatangan. Hal ini terjadi karena tersiarnya berita bahwa di pondok Suburan Mranggen telah muncul seorang tokoh kiai yang alim, siapa lagi kalau bukan Kiai Muslih Abdurrahman. (Ajie Najmuddin)

Selasa, 11 Maret 2014

Kisah Perjalanan Akhirat

Kisah Perjalanan Akhirat (Rugi Kalau Tidak Baca dan Sebarkan)
✐ Selepas Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya seperti tanduk besar) yang memekakkan telinga, seluruh makhluk mati kecuali Izrail & beberapa malaikat yang lain. Selepas itu, Izrail pun mencabut nyawa malaikat yang tinggal dan akhirnya nyawanya sendiri.

✐ Selepas semua makhluk mati, Tuhan pun berfirman mafhumnya "Kepunyaan siapakah kerajaan hari ini?" Tiada siapa yang menjawab. Lalu Dia sendiri menjawab dengan keagunganNya "Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." Ini menunjukkan kebesaran & keagunganNya sebagai Tuhan yg Maha Kuasa lagi Maha Kekal Hidup, tidak mati.

✐ Selepas 40 tahun, Malaikat Israfil a.s. dihidupkan, seterusnya meniup sangkakala untuk kali ke-2, lantas seluruh makhluk hidup semula di atas bumi putih, berupa padang Mahsyar (umpama padang Arafah) yang rata tidak berbukit atau bulat seperti bumi.

✐ Sekelian manusia hidup melalui benih anak Adam yg disebut "Ajbuz Zanbi" yang berada di hujung tulang belakang mereka. Hiduplah manusia umpama anak pokok yang kembang membesar dari biji benih.

✐ Semua manusia dan jin dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan hina. Mereka tidak rasa malu kerana pada ketika itu hati mereka sangat takut dan bimbang tentang nasib & masa depan yang akan mereka hadapi kelak.

✐ Lalu datanglah api yang berterbangan dengan bunyi seperti guruh yang menghalau manusia, jin dan binatang ke tempat perhimpunan besar. Bergeraklah mereka menggunakan tunggangan (bagi yang banyak amal), berjalan kaki (bagi yang kurang amalan) dan berjalan dengan muka (bagi yang banyak dosa). Ketika itu, ibu akan lupakan anak, suami akan lupakan isteri, setiap manusia sibuk memikirkan nasib mereka.

✐ Setelah semua makhluk dikumpulkan, matahari dan bulan dihapuskan cahayanya, lalu mereka tinggal dalam kegelapan tanpa cahaya. Berlakulah huru-hara yang amat dahsyat.

✐ Tiba-tiba langit yang tebal pecah dengan bunyi yang dahsyat, lalu turunlah malaikat sambil bertasbih kepada Allah SWT. Seluruh makhluk terkejut melihat saiz malaikat yang besar dan suaranya yang menakutkan.

✐ Kemudian matahari muncul semula dengan kepanasan yang berganda. Hingga dirasakan seakan-akan matahari berada sejengkal dari atas kepala mereka. Ulama berkata jika matahari naik di bumi seperti keadaannya naik dihari Kiamat nescaya seluruh bumi terbakar, bukit-bukau hancur dan sungai menjadi kering. Lalu mereka rasai kepanasan dan bermandikan peluh sehingga peluh mereka menjadi lautan. Timbul atau tenggelam mereka bergantung pada amalan masing-masing. Keadaan mereka berlanjutan sehingga 1000 tahun.

✐ Terdapat satu telaga kepunyaan Nabi Muhammad SAW bernama Al-Kausar yang mengandungi air yang hanya dapat diminum oleh orang mukmin sahaja. Orang bukan mukmin akan dihalau oleh malaikat yang menjaganya. Jika diminum airnya tidak akan haus selama-lamanya. Kolam ini berbentuk segi empat tepat sebesar satu bulan perjalanan. Bau air kolam ini lebih harum dari kasturi, warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih sejuk dari embun. Ia mempunyai saluran yang mengalir dari syurga.

✐ Semua makhluk berada bawah cahaya matahari yang terik kecuali 7 golongan yang mendapat teduhan dari Arasy. Mereka ialah:

ⅰ- Pemimpin yang adil.

ⅱ- Orang muda yang taat kepada perintah Allah.

ⅲ- Lelaki yang terikat hatinya dengan masjid.

ⅳ- Dua orang yang bertemu kerana Allah dan berpisah kerana Allah.

ⅴ- Lelaki yang diajak oleh wanita berzina, tetapi dia menolak dengan berkata "Aku takut pada Allah".

ⅵ- Lelaki yg bersedekah dengan bersembunyi (tidak diketahui orang ramai).

ⅶ- Lelaki yang suka bersendirian mengingati Allah lalu mengalir air matanya kerana takutkan Allah.


✐ Oleh kerana tersangat lama menunggu di padang mahsyar, semua manusia tidak tahu berbuat apa melainkan mereka yang beriman, kemudian mereka terdengar suara "pergilah berjumpa dengan para Nabi". Maka mereka pun pergi mencari para Nabi. Pertama sekali kumpulan manusia ini berjumpa dengan Nabi Adam tetapi usaha mereka gagal kerana Nabi Adam a.s menyatakan beliau juga ada melakukan kesalahan dengan Allah SWT. Maka kumpulan besar itu kemudiannya berjumpa Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. (semuanya memberikan sebab seperti Nabi Adam a.s.) dan akhirnya mereka berjumpa Rasullullah SAW. Jarak masa antara satu nabi dengan yang lain adalah 1000 tahun perjalanan.

✐ Lalu berdoalah baginda Nabi Muhammad SAW ke hadrat Allah SWT. Lalu diperkenankan doa baginda.

✐ Selepas itu, terdengar bunyi pukulan gendang yang kuat hingga menakutkan hati semua makhluk kerana mereka sangka azab akan turun. Lalu terbelah langit, turunlah arasy Tuhan yang dipikul oleh 8 malaikat yang sangat besar (besarnya sejarak perjalanan 20 ribu tahun) sambil bertasbih dengan suara yang amat kuat sehingga 'Arasy itu tiba dibumi.

✐ 'Arasy ialah jisim nurani yang amat besar berbentuk kubah (bumbung bulat) yang mempunyai 4 batang tiang yang sentiasa dipikul oleh 4 malaikat yang besar dan gagah. Dalam bahasa mudah ia seumpama istana yang mempunyai seribu bilik yang menempatkan jutaan malaikat di dalamnya. Ia dilingkungi embun yang menghijab cahayanya yang sangat kuat.

✐ Kursi iaitu jisim nurani yang terletak di hadapan Arasy yang dipikul oleh 4 malaikat yang sangat besar. Saiz kursi lebih kecil dari 'Arasy umpama cincin ditengah padang . Dalam bahasa mudah ia umpama singgahsana yang terletak dihadapan istana.

✐ Seluruh makhluk pun menundukkan kepala kerana takut. Lalu dimulakan timbangan amal. Ketika itu berterbanganlah kitab amalan masing-masing turun dari bawah Arasy menuju ke leher pemiliknya tanpa silap dan tergantunglah ia sehingga mereka dipanggil untuk dihisab. Kitab amalan ini telah ditulis oleh malaikat Hafazhah / Raqib & 'Atid / Kiraman Katibin.

✐ Manusia beratur dalam saf mengikut Nabi dan pemimpin masing- masing. Orang kafir & munafik beratur bersama pemimpin mereka yang zalim. Setiap pengikut ada tanda mereka tersendiri untuk dibezakan.

✐ Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Nabi Muhammad SAW, dan amalan yang pertama kali dihisab adalah solat. Sedangkan hukum yang pertama kali diputuskan adalah perkara pertumpahan darah.

✐ Apabila tiba giliran seseorang hendak dihisab amalannya, malaikat akan mencabut kitab mereka lalu diserahkan, lalu pemiliknya mengambil dengan tangan kanan bagi orang mukmin dan dengan tangan kiri jika orang bukan mukmin.

✐ Semua makhluk akan dihisab amalan mereka menggunakan satu Neraca Timbangan. Saiznya amat besar, mempunyai satu tiang yang mempunyai lidah dan 2 daun. Daun yang bercahaya untuk menimbang pahala dan yang gelap untuk menimbang dosa.

✐ Acara ini disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW dan para imam 4 mazhab untuk menyaksikan pengikut masing-masing dihisab.

✐ Perkara pertama yang diminta ialah Islam. Jika dia bukan Islam, maka seluruh amalan baiknya tidak ditimbang bahkan amalan buruk tetap akan ditimbang.

✐ Ketika dihisab, mulut manusia akan dipateri, tangan akan berkata- kata, kaki akan menjadi saksi. Tiada dolak-dalih dan hujah tipuan. Semua akan di adili oleh Allah Ta'ala dengan Maha Bijaksana.

✐ Setelah amalan ditimbang, mahkamah Mahsyar dibuka kepada orang ramai untuk menuntut hak masing-masing dari makhluk yang sedang dibicara sehinggalah seluruh makhluk berpuas hati dan dibenarkannya menyeberangi titian sirat.

✐ Syafaat Nabi Muhammad SAW di akhirat :

ⅰ- Meringankan penderitaan makhluk di Padang Mahsyar dengan mempercepatkan hisab.

ⅱ- Memasukkan manusia ke dalam syurga tanpa hisab.

ⅲ- Mengeluarkan manusia yang mempunyai iman sebesar zarah dari neraka.

(Semua syafaat ini tertakluk kepada keizinan Allah SWT.)

✐ Para nabi dan rasul serta golongan khawas juga diberikan izin oleh Tuhan untuk memberi syafaat kepada para pengikut mereka. Mereka ini berjumlah 70 000. Setiap seorang dari mereka akan mensyafaatkan 70 000 orang yang lain.

✐ Setelah berjaya dihisab, manusia akan mula berjalan menuju syurga melintasi jambatan sirat. Siratul Mustaqim ialah jambatan (titian) yang terbentang dibawahnya neraka. Lebar jambatan ini adalah seperti sehelai rambut yang dibelah tujuh dan ia lebih tajam dari mata pedang. Bagi orang mukmin ia akan dilebarkan dan dimudahkan menyeberanginya.

✐ Fudhail bin Iyadh berkata perjalanan di Sirat memakan masa 15000 tahun. 5000 tahun menaik, 5000 tahun mendatar dan 5000 tahun menurun. Ada makhluk yang melintasinya seperti kilat, seperti angin, menunggang binatang korban dan berjalan kaki. Ada yang tidak dapat melepasinya disebabkan api neraka sentiasa menarik kaki mereka, lalu mereka jatuh ke dalamnya.

✐ Para malaikat berdiri di kanan dan kiri sirat mengawasi setiap makhluk yang lalu. Setiap 1000 orang yang meniti sirat, hanya seorang sahaja yang Berjaya melepasinya. 999 orang akan terjatuh ke dalam neraka.

Rujukan:
Kitab Aqidatun Najin karangan Syeikh Zainal Abidin Muhammad Al-
Fathani. Pustaka Nasional Singapura 2004.

☞ Jika sekiranya kalian ingin mengumpul saham akhirat, sampaikanlah ilmu ini kepada sahabat² yang lain. Sepertimana sabda Rasulullah SAW:
❝ Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat. ❞
Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :
① Sedekah/amal jariahnya.
② Doa anak²nya yang soleh.
③ Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.



www.facebook.com/pengukirkata
www.facebook.com/pages/Islam-Itu-Agamaku/165114910177666

Google Santri